Selasa, 27 April 2010

Pasar Kue Subuh Senen, Jakarta Pusat

Mengais Omset di Pekatnya Pagi Jakarta

Walaupun beroperasi di pagi hari, Pasar Kue Senen tetap menjadi pilihan karena banyak menawarkan beragam kue.


Matahari masih enggan menampakkan wajahnya, hanya dingin dan gelap langit yang terlihat. Dengan mata yang masih berat, saya mencoba menuju ke Pasar Senen. Pasar Kue Senen terletak di samping gedung pertokoan Senen Jaya yang masih gres dan seberang Atrium Senen. Di sana kita akan dapati plang berukuran besar bertuliskan “Bursa Kue Subuh”, yang tak bakal membuat pengunjung kesasar.

Bursa kue subuh buka sejak pukul 19.00 hingga pukul 07.00, sesuai namanya, Subuh. Di sana, kita dapat melihat banyak hamparan aneka kue yang disusun rapi oleh para pedagangnya. Tanpa ragu, saya sambangi salah satu pedagang kue tersebut. Menurut pedagang tersebut, kue lapis yang warnanya hijau lebih enak daripada kue lapis yang bewarna merah. Sedikit terpengaruh saya pun menjajalnya. Rasa yang ditawarkan kue lapis tersebut cukup terasa dilidah saya.

Saya pun mencoba menyisir sisi demi sisi pasar kue tersebut. Sangat beragam kue yang ditawarkan para penjual, mulai dari bolu kukus, roti, pisang coklat, pastel, risol, dadar gulung, lapis, lemper, kue soes, nagasari, bugis, talam, putu, cakwe, pempek, onde-onde, bika ambon, kue tart ulang tahun dan yang menyita perhatian saya adalah sepasang roti buaya.

Di bagian dalam saya, saya mencicipi lemper ayam Bu Lily. Ia seorang pedagang agen dan juga eceran segala lemper, mulai lemper abon hingga lemper ayam. Ia telah berdagang di pasar Senen selama 30 tahun. “Dahulu Pasar Kue Senen ini hanya sepetak (1 blok), kemudian semakin berkembang dari tahun ke tahun hingga empat blok dan jumlah pedagang disini mencapai ratusan,” kata Lily kepada saya. Sambil memakan lemper buatannya, dia pun mengatakan bahwa beberapa penjual banyak yang mengambil lemper yang dia produksi sendiri. Harga yang ia tawarkan untuk lemper pun bervariasi. Dari harga Rp800-Rp1500 per lemper, tergantung isi dan bahan ketannya.

Kemudian saya menghampiri pedagang kue lainnya. Tepatnya di dekat pedagang rokok, saya berhenti sejenak untuk mencicipi beberapa kue yang berukuran kecil. Rata-rata para pedagang kue yang berukuran kecil disana mematok harga mulai Rp600-Rp1000 dan setiap harinya mereka dapat mengantongi Rp200.000-an. Bagi para pembeli dari agen kue, mereka biasanya menjual dengan keuntungan yang bervariasi, mulai Rp200-Rp1.000 per kue tergantung jenis kuenya.

Di setiap harinya, kue yang mereka jual diantar dan diambil oleh agen. Biasanya mereka membayar ke agen setelah mereka selesai berdagang sekitar jam tujuh pagi, itupun mereka hanya membayar kue yang laku, sisanya dibawa kembali oleh agen kue tersebut.

Agen dan pengecer di Pasar Kue Senen pun sebenarnya di lokasi yang sama. Biasanya, agen berada di blok sebelah pengecer yang bersampingan dengan parkir motor sebelah selatan. Setiap agen biasanya memproduksi satu jenis makanan, kemudian dibantu para karyawan untuk mengantarkan ke pengecer kue. Para agen tersebut berasal dari berbagai daerah, seperti Kranggan, Ciledug, dan Tanjung Priuk.

Misalnya agen lemper Lily, ia memproduksi lemper dan menjadi agen kue pengecer lainnya. “Banyak pengecer yang mengambil lemper produksi saya untuk dijual kembali, selain pengecer di Pasar Kue Senen, pelanggan lainnya adalah pedagang kue yang biasanya berasal dari Bekasi, Jakarta Utara, dan Jakarta Barat,” jelas Lily.

“Pasar Kue Senen yang dikelola manajemen Pasar Jaya ini biasanya ramai di malam akhir pekan. Di sana kita dapat melihat banyak mobil yang diparkir di pinggir jalan sekitar Pasar Senen.” tegas salah seorang penjaga parkir di Senen.

Pasar Senen Sendiri pun memiliki sejarah yang panjang. Di zaman penjajahan Belanda sekitar tahun 1793, Justinus Cornellis Vincke mendirikan pasar di sekitar istana Weltevreden (lokasinya kini menjadi rumah sakit angkatan darat), disamping pasar tanah abang. pada saat itu pasar yang dekat istana ini hanya dibuka pada hari Senin sehingga masyarakat menyebutnya “Pasar Senen” atau disebut Vincke Passer. Kemudian di tahun 1970-an pemerintahan Jakarta Raya membuat Pasar Senen dan Pasar Inpres yang jaraknya berdekatan dengan terminal, dengan tujuan agar mudah berlangsungnya kegiatan jual-beli. Pembangunan pun dilanjutkan kembali ditahun 1990-an dengan dibangunnya pusat-pusat perbelanjaan lainnya, seperi Atrium Senen.

Tampaknya matahari mulai menampakkan sinarnya. Waktunya saya untuk bergegas pulang karena esok pagi harus kembali bekerja. Tak menyesal, sedikit memaksakan rasa kantuk untuk menjajal beberapa kue yang ada di sana.
[Aswin Cahyadi]

1 komentar:

  1. tolong muat tar nama pembuat kue subuh beserta kontaknya agar bisa membuka lapangan kerja bagi pedagang pemula dg modal kecil

    BalasHapus