Jumat, 16 Juli 2010

Pujasera

                  KFF : Lokasinya hoki

Lokasi Ciamik, Dagangan Laris
Tak perlu membuat promosi besar-besaran yang akan menghabiskan biaya. Dengan konsep yang matang, para tenant dan pengunjung akan datang sendiri.


Sore itu, jalanan di kawasan Kemang, tampak macet. Hal yang lumrah. Kawasan itu bak magnet bagi warga Jakarta, baik yang mengantongi KTP Indonesia maupun berpaspor asing. Meski peruntukannya bukan untuk ruang usaha, banyak butik, restoran, kafe, dan hotel berdiri di kawasan tersebut.  


Bagi sebagian kalangan, selain sebagai tempat hang out yang cool, Kemang adalah surga kuliner. Mau mencari makanan khas India, ada. Makanan asli Eropa, juga ada. Bahkan, kalau Anda mau mencari makanan khas Manado, juga ada. Lalu, apa jadinya kalau Anda datang beramai-ramai dengan kolega tapi punya keinginan menyantap makanan yang berbeda-beda? Tak seru bila harus berpisah tempat tongkrongan hanya karena selera makanan yang berbeda. 

Beruntung, di Kemang kini ada Kemang Food Festival (KFF), tempat hang out yang mengusung konsep Pusat Jajanan Serba Ada (Pujasera). Namanya juga “serba ada”, maka tak heran kalau di KFF ada berupa-rupa gerai yang menyediakan makanan. 

Lokasi KFF sungguh strategis, karena berada di jantung Kemang. Menurut Julian Prima, Manager Promosi KFF, “KFF memiliki luas areal 4800 m2 dan lokasi KFF sangatlah strategis karena berada ditengah-tengah pusat resto/tempat makan yang harganya murah dibandingkan tempat makan disekitarnya, makanya KFF menjadi pilihan mereka. Selain itu juga, lokasi KFF pun memiliki hoki tersendiri.” 

KFF yang berlokasi di Jalan Kemang Raya no 19 c, Jakarta Selatan mulai berdiri di tahun 2006. Sang pemilik yang bernama Adrian dan Awan, tak tanggung-tanggung merogoh koceknya hingga Rp2 miliar untuk mengonsep KFF.

Pada awal berdirinya, KFF mengusung konsep baru yakni pujasera yang memiliki tempat makan di alam terbuka. Konsep tersebut diperoleh dari empunya yang ketika itu sedang berlibur di luar negeri, kemudian direalisasikan konsep tersebut ke Indonesia.

Hingga saat ini KFF telah merangkul 34 tenant mulai tenant kuliner hingga pakaian (butik), diantaranya Roti Bakar Eddy, Dimsum, Raja Bubur, Opi's Kebab, Cafe Oh La La, Nasi Bakar, Spageti Tek-Tek, dan tempat penjualan kaset Kemang Disc.

Para tenant ini beroperasi setiap hari, mulai buka pukul 17.00 hingga pukul 03.00. Biasanya para pengunjung mulai ramai pada pukul 20.00. Para pengunjung KFF pun bervariasi, biasanya di Senin sampai Kamis para pengunjungnya adalah para executive muda. Di akhir pekan biasanya didominasi para remaja yang berasal dari berbagai belahan Jakarta mulai dari Jakarta Barat, Jakarta Timur, Derpok, hingga Bekasi, sedangkan di hari libur pengunjungnya adalah keluarga. Salah satunya pengunjungnya adalah Mega, salah seorang mahasiswa di Jakarta yang berasal dari Bekasi, “Biasanya di akhir pekan KFF tuh rame banget, banyak pengunjung yang harus waiting list terlebih dahulu untuk makan di KFF.”

Untuk masalah tempat, para tenant KFF ditawarkan beberapa jenis tempat yang berbeda ukuran. Ada yang berukuran dengan luas 10 m2 hingga 78 m2, Tiap Ukuran pun membedakan biaya sewa tempatnya. Untuk tempat yang berukuran 10 m2, pihak KFF sendiri mematok harga mulai Rp5 juta-Rp10 juta.
 Untuk menarik para pengunjung tentunya tiap pihak KFF memiliki kiat tersendiri. Pihak KFF sendiri secara berkala mengadakan acara bagi para pengunjungnya, “Biasanya di akhir pekan kami mengadakan acara musik, nonton pertandingan sepak bola atau nonton balap GP bareng,” jelas Julian, pria yang mengawali karirnya di EO. Selain itu, guna memanjakan para pengunjung, KFF menyediakan fasilitas sebuah big screen berukuran 3x4m tujuannya agar para pengunjung dapat menikmati tontonan yang disajikan KFF dan wi-fi gratis.

Untuk harga yang ditawarkan di KFF pun sangat bervariasi, mulai Rp9.000 hingga Rp50.000-an.” Dilihat dari faktor harga, KFF memang lebih murah dibandingkan dengan harga yang ditawarkan resto-resto di sekitar Kemang, hal tersebutlah yang menjadi alasan para pengunjung datang ke KFF.

Hingga saat ini KFF memiliki 40 orang karyawan, mulai dari petugas kebersihan hingga keamanan. Tiap bulannya KFF menggelontorkan Rp70 juta-an untuk biaya operational, membuat event, dan menggaji karyawan.
 
Taman Kuliner
Selain KFF, kita dapat menjumpai Taman Kuliner (Tamkul) yang terletak di Jalan Raya Kali malang KAV 22, tepatnya di depan komplek Kodam Kalimalang. Tamkul memiliki luas area 1300 m2 untuk area makan dan luas area parkirnya 1200 m2.

Menurut Manajer Taman Kuliner, Chandra Djamaludin, “Investasi awal yang dikeluarkan sang pemilik untuk membuat konsep ini sekitar Rp800 juta, itupun di luar tempat. Taman Kuliner sendiri lahir dengan tiga konsep pembeda, yang pertama all freshco yaitu ruang makan terbuka, kedua tatemi ialah ruang makan yang berbentuk lesehan, dan ketiga tempat makan yang tertutup.”

Hingga saat ini, Tamkul telah merangkul 16 tenant, diantaranya K-24, Cirkle K, Pelangi Bakmi, Dimsum Happy, Dapur Pojok, Ice Qimo, dan lain-lain. Para tenant biasanya beroperasi mulai pukul 17.00 – 01.00. “Para pengunjung pun beragam, mulai pelajar hingga keluarga, biasanya mereka mulai ramai pukul 20.00,” jelas C. Purba, sang pemilik yang berumur 32 tahun ini. 

Untuk penyewaan tempat, Tamkul menawarkan tempat kepada tenant dengan service cash Rp800.000/m2 per tahun dan dikenakaan service cash sebesar 15% dari omset. “Jadi, dengan asumsi jika gerainya berukuran 2x4 m, si penyewa tiap bulannya dikenakan biaya kurang lebih Rp960.000/bulan, itu belum termasuk biaya management fee sebesar 12,5% dari omset Tamkul yang mencapai Rp10-Rp16 juta per hari,” tutur C.Purba, sang pemilik yang juga seorang pengusaha kelapa sawit di Aceh dan Riau.

Beragam fasilitas pun Tamkul hadirkan bagi pengunjungnya, diantaranya wi-fi gratis, big screen yang dapat menampilkan sms pengunjung Tamkul, ruang rapat yang mampu menampung 14-20 orang peserta, dan beberapa acara musik yang digelar setiap Jumat malam. Menurut Chandra, “Kami membuat sebuah inovasi baru dengan program SIMMS, yaitu sebuah program baru di Indonesia, kegunaannya adalah untuk menampilkan sms para pengunjung Tamkul di Big Screen kami.”

Harga yang ditawarkan di Tamkul pun bervariasi, mulai Rp9.000-Rp40.000 an. Hingga saat ini Tamkul memiliki 20 orang karyawan, mulai dari petugas kebersihan, keamanan, hingga kasir. Tiap bulannya Tamkul mengeluarkan biaya sebesar Rp20-Rp25 juta per bulan.

Berani Mencoba?

Langkah yang pertama adalah penentuan lokasi. Lokasi yang berada di pusat tempat makanan dan perkantoran merupakan lahan yang potensial bagi pengembangan usaha pujasera, seperti penempatan lokasi KFF. Dalam penentuan lokasi, penilaian target pasar pun harus dilakukan sebelumnya dan semaksimal mugkin mampu memenuhi kebutuhan para konsumen.

Dalam memulai usaha ini, kita pun memerlukan beberapa karyawan, mulai pegawai kemanan, kebersihan, hingga kasir. Selanjutnya, adalah konsep. Menurut Chandra, “Dengan konsep yang matang, manajemen tidak perlu membuat promosi besar-besaran yang nantinya akan mengeluarkan banyak uang untuk mengundang para tenant dan pengunjung untuk datang. Para tenant datang sendiri, kami hanya memasang plang kalau tempat ini akan dibuka foodcourt.” 

Setelah konsep matang, ada baiknya pengelola membuat beragam acara. Misalnya saja mengadakan acara musik atau nonton bareng rutin ditiap minggu. Penyediaan fasilitas pun penting, seperti penyediaan wi-fi gratis bagi pengunjung dan penyediaan big screen untuk sekadar nonton bareng.

  
[Aswin Cahyadi]

Taman Kuliner
Alamat : Jl. Raya Kalimalang KAV 22, Duren Sawit, Jakarta Timur.
Telepon : (021) 8600058
Email : tamankuliner@yahoo.com  


Kemang Food Festival

Alamat : Jl. Kemang Raya no:19 C, Jakarta Selatan
Telepon : (021) 7194852
Faksimile : (021) 7194852
Email : kemangfoodfest@hotmail.com




Berawal dari Hobi, Kini Menjadi Bisnis
Awalnya hanya menjual Fingerboard ke teman-teman. Kemudian, dengan modal Rp12 juta Dhika dan Desie memberanikan diri untuk memulai bisnis Fingerboard. Mulai menjadi reseller hingga menjadi produsen.

Ketika jalan-jalan ke Taman Mini Indonesia Indah, saya mendapati tempat yang bernama Green Park, tepatnya di sebelah teater Keong Mas. Green Park adalah sebuah tempat yang menyediakan arena untuk permainan Skateboard dan sepeda BMX. Tidak hanya anak kecil, tetapi orang dewasa hingga ekspatriat pun gemar bermain di sana.

Lambat laun permainan Skateboard pun berkembang. Kemudian, muncullah Fingerboard di Indonesia di 2008. Fingerboard atau Finger-Skateboard adalah versi miniatur Skateboard bergerak lengkap dengan wheels (roda), deck (papan) dan trucks (tumpuan roda). Fingerboard memiliki panjang 96 milimeter dan memiliki lebar mulai 26 mm (biasa), 28 mm (lebar), dan 29 mm (ekstra lebar). Jika Skateboard dilakukan dengan kaki, berbeda dengan Fingerboard yang dimainkan dengan jari tangan.

Menurut sejarah, Fingerboard pertama kali dibuat oleh Lance Mountain sebagai mainan buatan sendiri pada 1970-an dan dijadikan gantungan kunci di toko-toko Skateboard. Kemudian, di 2000 an Fingerboard kembali populer di Eropa, khususnya di Jerman dan Amerika Serikat. Hal tersebut mempengaruhi banyak lahirnya produsen Fingerboard. Salah satunya, Blackriver-Ramps dan Oakmood.

Tak mau ketinggalan, Indonesia pun memiliki beberapa produsen Fingerboard. Salah satunya adalah Fingerplant yang berlokasi di Kota Wisata, Cibubur. Sang pemilik Alldhika Ganessha dan Desie Ananta resmi mendirikan Fingerplant di Januari 2010. Menurut sang pemilik, nama Fingerplant sendiri, diambil dari salah satu gaya dari permainan Skateboard, yakni Kickplant.
  
Ketika Duit menanyakan kenapa mereka memilih untuk berwirausaha?, Desie menjawab,”Kami ingin menciptakan lapangan pekerjaan dan menyalurkan idealisme kami. Dengan begitu, kami dapat membuat banyak karya dan ini salah satunya.”

Awal ketertarikannya untuk membuka usaha tersebut ketika Dhika menjual Fingerboard yang dibelinya di online store kepada teman-temannya. “Ternyata banyak teman yang pesan ke saya karena mereka tidak mengerti beli di online store,” jelas pria berusia 24 tahun ini. 

Melihat peluang yang cukup baik di dunia Fingerboard, khususnya di Indonesia. Dhika dan Desie mulai memberanikan diri untuk menekuninya. Bermodalkan Rp12 juta, mereka memulai usaha tersebut. “Modal sebagian dari orang tua,” papar pria yang memiliki banyak tato ini. Saat memulai usaha tersebut, penggunaan modal mereka alokasikan untuk pembelian bahan dan pembuatan website. Selain itu, mereka berdua dibantu oleh sahabat mereka, Ian sebagai product development.

Sebelum memproduksi Fingerboard sendiri, mereka adalah reseller dari beberapa produk Fingerboard luar negeri. Awalnya, mereka mengirimkan e-mail dan proposal ke produsen resmi Fingerboard yang berpusat di Jerman dan Amerika Serikat. Tak lama, mereka pun menjadi reseller resmi Fingerboard di Indonesia. Beberapa produk yang mereka kantongi adalah Blackriver-Ramp.com dan Fingerboard.de yang merupakan produsen dari Jerman. Sedangkan produk Amerika serikat mereka menggandeng produk Oakmood. 

Proses pemesanan sebagai reseller pun cukup mudah. Mereka mengirimkan daftar pesanan barang kemudian mereka mentransfer sejumlah nominal yang mereka pesan.Pesan tersebut akan sampai dalam waktu satu minggu. Untuk masalah harga jual, produsen Fingerboard dari Jerman sudah mematok harga. Fingerplant sebagai reseller mendapat keuntungan 80% dari harga yang telah dibanderol di website resmi produsen Fingerboard Jerman tersebut. Harga yang ditawarkan berkisar dari Rp350 ribu-Rp700 ribu.

Tak cukup hanya menjadi reseller, mereka pun mencoba memproduksi Fingerboard sendiri. Menurut Dhika, ada beberapa langkah yang harus dipersiapkan, yang pertama adalah penyediaan bahan baku Fingerboard. Untuk membuat Deck (papan) Fingerboard, bahan yang diperlukan adalah Veener, yakni kulit kayu, yang bentuknya tipis. Veener yang mereka gunakan adalah jenis Canadian Maple. Jenis kayu ini termasuk kayu impor. “Sebelumnya kami memakai veneer dari kayu jati dan kayu sungkai, tetapi hasilnya tidak maksimal,” terang Dhika. Untuk memperoleh bahan baku tersebut, mereka memperolehnya di perusahaan kayu besar di daerah Kemayoran. Tetapi, kini ia mendapatkannya di perusahan kayu besar di daerah Jati Asih, Bekasi. “Jadi, kami tidak usah repot jika ingin belanja bahannya,” papar Desie, perempuan yang pernah menjadi penyiar di Oz fm ini. Harga yang ditawarkan untuk Veener Canadian Maple ini Rp100.000 per lembar.

Veener yang berupa lembaran kemudian dipotong sesuai pola yang telah dibuat sebelumnya. Setelah tahap pemotongan selesai, langkah yang berikutnya adalah pencetakan Veener. Untuk proses pencetakannya sendiri dibutuhkan alat cetak yang khusus. Sejauh ini, sang pemilik memiliki dua jenis alat cetak. Salah satunya adalah alat cetak yang didatangkan dari Amerika Serikat dengan harga Rp200 ribuan dan satu buah alat cetak yang dibuat sendiri dengan bahan dempul.

Selanjutnya proses pencetakan, proses tersebut memakan waktu hingga 12 jam lebih. Satu cetakan tersebut mampu mencetak lima lembar Veener sekaligus. Proses berikutnya adalah pengeleman. Sejauh ini, Dhika menggunakan lem kayu lokal, seperti lem Fox dan juga satu buah lem impor. Lima lembar Veener tersebut kemudian di lem hingga rapat. Setelah itu, bagian atas papan dilapisi grip tape sesuai bentuk papan.

Proses selanjutnya adalah pemasangan trucks dan wheels. Proses ini tergolong mudah dan hanya membutuhkan waktu yang singkat. Alat yang dibutuhkan hanya obeng.

Untuk penyedian trucks dan wheels, sang pemilik memesannya langsung dari Hongkong. Mereka hanya mengirimkan daftar barang kemudian selang waktu satu minggu barang tiba. Pemesanan barang tersebut biasanya mereka lakukan dua kali dalam sebulan dan setiap order 100 set. “Awalnya kami dihubungi oleh mereka (orang Hongkong) dan harganya oke. Jadi kami ambil dari mereka,” jelas Desie, perempuan alumni D3 Broadcasting UI ini. 

Hingga kini, Fingerplant memproduksi dua jenis Fingerboard, yakni Wide dan Reguler. Untuk pasar Indonesia, jenis Wide lebih laku. “Wide lebih laku karena wide lebih populer di Eropa,” papar pria yang hobi bermain Skateboard ini. Fingerplant kini telah memiliki lima orang karyawan, yang kebanyakannya adalah teman-temannya sendiri. Dalam sebulan Fingerplant dapat memproduksi 50 an buah Fingerboard. Harga Fingerboard tersebut mereka banderol mulai Rp90.000 hingga Rp125.000.

Untuk masalah penjualan, Fingerplant memiliki tradisi yang khas. Mereka menjualnya dengan cara online secara berkala, yakni tiap dua minggu sekali. “Kami menyetok barang mulai jam 12 malam. Jadi, para pembeli menunggunya hingga larut,” papar Desie. Produk yang dijualnya pun beragam, mulai deck, tracks, dan wheels. Dalam sekali penjualan, Fingerplant mampu meraup omset Rp20 juta, dengan margin keuntungannya 80%-100%.

Untuk promosinya, Fingerplant mensponsori para riders nya dalam beberapa kompetisi Fingerboard di Indonesia. “Kami men-support para riders dengan cara menyediakan papan lengkap Fingerboard, kaus, dan topi dari produksi Fingerplant,” terang Dhika. Hingga saat ini, Fingerplant memiliki empat riders, diantaranya Kenjiro, Akbar, Gung Mas, dan Hendra. 

Sejauh ini, para pembeli produk Fingerplant biasanya para pelajar dan mahasiswa. Mereka berasal dari bebagai kota, misalnya Bogor, Semarang, Yogyakarta, Solo, Bali, Palembang, dan Kalimantan. “Malah konsumen kita juga ada yang dari Singapura dan Australia. Mereka adalah orang Indonesia yang sekolah di sana,” papar Desie, perempuan yang lahir di tahun 1986 ini. 


[Aswin Cahyadi]

Fingerplant
Kota Wisata Pesona New Georgia
Blok TB 3 No 3, Cibubur.
Telp : 08567114707
www.fingerplant.com

Perkiraan biaya dan keuntungan
Modal awal Rp12 juta

Omset Rp40 juta/bulan

Margin keuntungan (80%-100%)



Kedai Sate Jaya Agung

                                   Suasana pengunjung Kedai Sate Jaya Agung 

                Sudjono (adik pemilik) :kunci suksesnya dalah menjaga kualitas rasa
Sate Lokal, Pengunjung Internasional
Walaupun lokasinya sederhana, kedai sate Jaya Agung tetap diminati banyak pengunjung. Kunci suksesnya adalah rasanya yang khas dan selalu menjaga kualitas rasa.

Siapa yang tidak kenal sate, rasanya yang khas, selalu memiliki ruang tersendiri bagi para pecinta kuliner Indonesia. Bahkan, Presiden Amerika Serikat, Barack Obama pernah mengatakan bahwa sate adalah salah satu makanan Indonesia yang menjadi favoritnya dan dengan fasihnya ia mengucapkan “sate” dalam penggalan wawancaranya di salah satu stasiun swasta Indonesia.

Sate atau yang kadang disebut satai adalah makanan yang terbuat dari potongan daging (ayam, kambing, sapi, ikan, dan kelinci) yang diiris kecil-kecil, ditusuk dengan tusukan yang terbuat dari bambu kemudian dibakar dengan menggunakan arang. Setelah dibakar hingga matang, biasanya sate disajikan dengan bumbu kacang atau kecap.

Menurut sejarah, sate berasal dari Pulau Jawa, pada abad ke-19 ketika pedagang Arab secara serentak melakukan perdagangan ke Indonesia. Banyaknya permintaan dari para pedagang Arab, dengan cepat sate menjadi salah satu makanan favorit, entah sate ayam maupun sate kambing. Selain itu juga, sate populer di negara-negara Asia Tenggara, seperti Malaysia, Singapura, Filipina dan Thailand. Sate juga populer di Belanda yang dipengaruhi masakan Indonesia yang dulu merupakan koloninya. Sedangkan sate versi Jepang disebut yakitori.

Salah satu kedai sate ayam dan kambing yang menjadi favorit adalah kedai sate Jaya Agung, yang berlokasi di jalan KH. Wahid Hasyim no 56 C. Tepatnya di belakang gedung Jakarta Theatre. Walaupun tempatnya terlihat sederhana, pengunjung rela antre untuk mencicipi kedai sate tersebut.

Menu yang disajikan kedai sate Jaya Agung cukup bervariasi. Mulai sate ayam, sate kambing, sate hati kambing, gule kambing, soto madura, soto ayam, dan sop kaki kambing. Kedai sate tersebut mematok harga mulai Rp14.000 untuk satu porsi soto, gule, dan sate ayam. Sedangkan, harga sate kambingnya di patok Rp30.000 per porsi.

Sang pemilik kedai sate Jaya Agung adalah seorang kakak beradik, yakni Djali Suprapto dan Sudjono. Mereka berasal dari Lamongan, Surabaya. Pada tahun 70-an, mereka mulai merintis kedai sate tersebut dengan modal kecil dan keberanian. “Saat memulai usaha ini, kami hanya bermodalkan Rp1000, mungkin saat ini senilai Rp1 juta. Awal pembukaan, lokasi kami berada diseberang jalan dari lokasi kedai kami sekarang. Awalnya kami hanya berjualan dengan menggunakan tenda yang berukuran 1x3 meter, itupun hanya gerobak, meja makan, dan beberapa kursi,” tutur Sudjono, adik dari Djali.

Rupanya dari tahun ke tahun kedai sate Jaya Agung mulai mendapat hati dari masyarakat. Pada 1972, kedai sate tersebut pindah ke tempat yang sekarang mereka tempati dengan dibantu empat karyawan.

Sentra Kuliner
Dilihat dari lokasinya, sate Jaya Agung memiliki tempat yang cukup strategis. Berada di sentra kuliner jalan Sabang, Jakarta Pusat yang dinamakan Kawasan Kuliner Kampung Lima yang diresmikan pada 2009 oleh Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo. Sedikitnya terdapat 160 pedagang dengan sistem shift dalam sentra kuliner jalan Sabang ini. Selain itu, lokasi kedai sate tersebut diapit oleh pusat perkantoran dan perbelanjaan.
 
Setiap harinya kedai sate Jaya Agung beroperasi mulai 08.00 hingga 02.00. Biasanya kedai tersebut mulai ramai pengunjung pada jam makan siang, mulai jam 11.00. Sedangkan di jam makan malam, mulai pukul 18.30. Di hari kerja, biasanya para pelanggan adalah para karyawan dan jika di akhir pekan para pelanggannya adalah keluarga, artis, dan turis. Menurut Sudjono, pria kelahiran 1967, “Beberapa artis memang suka makan di kedai ini, misalnya Dede Yusuf, Becky Tumewa, dan masih banyak lagi. Mereka biasanya makan bersama keluarganya”

Selain itu, kedai sate Jaya Agung pun kerap dikunjungi para turis karena kedai tersebut masuk dalam guide map turis internasional. Kebanyakan turis yang singgah dan mencicipi kedai sate Jaya Agung berasal dari Timur Tengah, Jepang, dan Eropa. Para turis tersebut biasanya mencicipi soto madura kedai ini, mereka suka karena rasanya yang khas. “Pernah juga, kedai ini diliput oleh Pak Bondan Winarno, sebagai acara perdana acara kulinernya di televisi,” jelas Sudjono.

Hingga saat ini kedai sate Jaya Agung telah memiliki 16 karyawan. Karyawan tersebut dibagi ke dalam dua shift, shift pertama terdiri dari 6 orang dan shift kedua 10 orang. Yang menarik dari kedai sate tersebut adalah pakaian yang dikenakan para karyawannnya. Jika kebanyakan kedai makanan serupa memakai seragam yang bertuliskan nama kedainya, tetapi tidak dengan kedai sate ini. Malahan, para karyawannya mengenakan baju batik. “Kami sengaja mengganti seragam karyawan kami menjadi baju batik karena baju batik lebih enak dipandang dan terlihat santai, namun rapi,” jelas pria yang memiliki hobi jalan-jalan ini.
 
Dalam merekrut karyawan, sang pemilik pun memiliki kiat tersendiri. Para karyawan tersebut biasanya para saudara atau teman dari karyawannya yang telah bekerja di kedai sate yang dikomandoinya. Kebanyakan dari mereka berasal dari Tegal, Solo, dan Wonogiri. Hal tersebut dimaksudkan agar lebih mudah menjalin hubungan dalam bekerja. Untuk pembiayaan seluruh karyawannya, Sudjono merogoh koceknya kurang lebih Rp15 jutaan per bulan.

Kunci Sukses
Ketika DUIT menanyakan kunci sukses menjalankan usaha satenya, pria kelahiran Surabaya 15 Mei ini mengatakan, “Kunci saya dalam melakoni usaha ini adalah telaten, sabar, disiplin, selalu menjaga kualitas rasa.”

Untuk menjaga mutu rasa, setiap hari sang pemilik rela untuk belanja daging ke pedagangnya langsung di daerah Tanah Abang. Hal ini dikarenakan agar rasa daging-daging tersebut tetap segar. 
Selain itu, sang pemilik, yakni Djali selalu mengontrol rasa makanan yang tersaji di meja. “Biasanya tiap satu jam atau dua jam sekali dia selalu mencicipi kecap dan jeruk nipis yang tersedia di meja. Jika rasa kecap mulai tidak enak dan jeruk nipis rasanya sudah tidak segar dan asem, langsung kami ganti,” terang Sudjono.

Cita rasa yang khas pun yang menjadi daya pikat kedai Jaya Agung. Bumbu satenya yang ditawarkan kedai sate ini berbeda dengan bumbu sate penjual lainnya. Bumbu sate kedai ini memiliki gerusan kacangnya agak kasar. “Bumbu kacang dengan gerusan yang tidak halus itulah yang menjadi kekhasan kedai sate kami, jadi rasa kacangnya di lidah lebih terasa, “ papar Sudjono  

Setiap harinya kedai sate Jaya Agung mampu meraup omset rata-rata Rp7 juta-Rp8 juta. Sedangkan, pengeluaran perharinya sekitar Rp3-Rp4 juta, biaya tersebut meliputi biaya pembelian daging dan bumbu-bumbu lainnya, seperti bawang merah, jeruk nipis, daun bawang, dan lain-lain.

Sayangnya, hingga kini sang pemilik Djali dan Sudjono enggan untuk membuka cabang baru untuk kedai sate tersebut. Padahal, banyak pengunjung yang menginginkannya agar mereka membuka cabang satenya agar para pengunjung dapat menikmati rasa sate kedai tersebut tanpa antre. “Kalau untuk buka cabang baru, saya sudah tidak sanggup,” papar Djali. 

[Aswin Cahyadi]
Sate Jaya Agung
KH. Wahid Hasyim no 56 C
Jakarta Pusat



Bisnisnya Orang Kantoran

                                Budi Cahaya (kiri) bersama Andrie Wongso

Buka Warnet Setelah Toko Mainannya Gulung Tikar

Bermodal dari kegagalan membuka usaha replika mobil, Budi mampu bangkit lewat bisnis warnetnya. Ia pun tak mau muluk-muluk dalam mengawali bisnisnya tersebut. Bisnis ini ia pilih karena tidak banyak menyita waktunya dan pengawasannya mudah.  

Tercatat sebagai karyawan bank BRI sejak 1997, Budi Cahaya mengawali karirnya di dunia perbankan. Jabatannya sebagai Account Officer membuat dirinya sering bertemu dengan banyak nasabah. Nasabah tersebut sebagian besar adalah pengusaha, mulai pengusaha kecil hingga menengah.”Karena sering bertemu dengan para nasabah saya yang sebagian besar sebagai pengusaha, saya jadi tahu seluk beluk bisnis,” papar pria yang berkacamata ini.

Hal tersebutlah yang kemudian memacu keberanian Budi untuk membuka usaha sendiri. Lalu, di 2008 Budi mulai membuka usaha replika mobil yang bernama Mobilan Toys. Mobilan Toy menjual berbagai macam replika mobil yang berbahan dasar plastik. Harga yang ditawarkan untuk sebuah replika tersebut pun bervariasi, mulai Rp35.000-Rp250.000. Barang-barang tersebut adalah produk yang didatangkan dari Cina dan ia menjadi distributornya.

Selang enam bulan, usaha tersebut mengalami kegagalan. Meskipun ia telah ikut serta dalam pameran di salah satu mal di Jakarta, penjualan pun tak mampu merangkak naik. “Itu usaha yang pertama saya. Saya mengalami kegagalan, namun dari hal tersebut saya memperoleh banyak pelajaran,” cerita pria kelahiran Jakarta ini.

Berangkat dari pengalaman tersebut. Budi memberanikan untuk memulai sebuah bisnis baru. Kali ini, ia mencoba bisnis di bidang internet. Di akhir 2008, ia pun mulai membuka warnet yang berlokasi di perumahan Duren Sawit, Jakarta Timur. Warnet tersebut dinamakan Brian Net. Nama tersebut diambil dari nama putra sulungnya, Brian.

Menurut Budi, bisnis warnet merupakan hal yang cukup ngetrend. Selain itu, jenis bisnis tersebut mudah diawasi dan juga komputer merupakan hobinya. Jadi, ia tidak terlalu mengalami banyak hambatan dalam mengawali bisnis tersebut.“Setiap Sabtu dan Minggu, saya mengontrol ke lokasi warnet. Karena jarak rumah saya dan warnet dekat, kadang pulang kerja saya pun menyempatkan diri mampir sebentar ke sana,” papar pria yang lahir di 1973 ini. 

Di awal pembukaan warnet tersebut, Budi mengaku merogoh dari koceknya sendiri sebesar Rp20 juta. Rp15 juta untuk pengadaan delapan perangkat komputer Intel Pentium IV dan sisanya untuk biaya sewa tempat selama setahun. Selain itu, Budi pun memodali warnetnya dengan AC (Air Conditioner) yang ia telah miliki sebelumnya.

Untuk masalah lokasi, Budi pun tidak muluk-muluk. Ia hanya menyewa kios sederhana yang terletak di dekat perumahan Duren Sawit. “Saya tidak mau terlalu nafsu untuk membuka secara besar-besaran warnet ini. Karena banyak warnet besar lain disekitar sini gulung tikar, “ papar pria yang hobi bermain bulu tangkis ini.

Sejauh ini, para pelanggan warnetnya adalah para penduduk yang tinggal di komplek tersebut. Sebagian besar dari mereka adalah orang yang tidak memiliki akses internet di rumahnya. Biasanya mereka browsing, main game, dan ngeprint untuk berbagai keperluan. Setiap harinya Brian Net beroperasi mulai pukul 11.00 hingga 02.00 dini hari dan mampu meraup omset Rp150 ribu per hari.

Untuk biaya operational, setiap bulannya ia merogoh Rp2 juta. Biaya tersebut ia gunakan untuk membayar satu orang karyawan, sewa tempat, bayar listrik, dan membayar Telkom Speedy.

Untuk masalah peraturan membuka usaha sendiri bagi karyawan BRI, menurut Budi, pihak BRI tidak melarang, jika usaha tersebut tidak berbentuk PT (Perseroan Terbatas). Selain itu, ketika Duit menanyakan apa dia akan pindah kuadran? Budi menjawab, “Wah, saya belum berani untuk pindah kuadran.”

[Aswin Cahyadi]


Brian Net
Jalan Naga Raya II No 1
Duren Sawit, Jakarta Timur.

Cipaganti Tour dan Travel




Beraksi dengan Delapan Kursi !
Cipaganti tetap menjalankan armadanya, walaupun hanya satu penumpang dan memodifikasi armadanya untuk memberikan kenyamanan para penumpangnya.

Bagi Anda yang memiliki hobi bepergian, kini Anda tidak perlu repot ataupun khawatir. Pasalnya, saat ini banyak bermunculan travel-travel yang akan mempermudah Anda dalam melakukan perjalanan ke berbagai daerah. Dengan travel tersebut Anda akan memperoleh kenyamanan yang lebih dibandingkan naik kendaran umum lainnya, misalnya bis atau kereta api. Pihak travel akan menjemput dan mengantarkan Anda sampai tujuan. 

Hingga saat ini, terdapat puluhan jasa travel. Salah satunya adalah Cipaganti Travel. Nama Cipaganti sendiri diambil dari salah satu nama jalan yang ada di Bandung. Tepatnya 1985, sang pemilik, Andianto Setiabudi mendirikan showroom mobil bekas yang dinamakan Cipaganti Motor. Letaknya di jalan Cipaganti no 84, Bandung. Kemudian, di 1999 Cipaganti membuka rental mobil guna memenuhi kebutuhan operasional banyak perusahaan. Cipaganti menyediakan berbagai jenis kendaraan, mulai kendaraan pengangkutan barang hingga penumpang.

Cipaganti pun mulai melebarkan sayap bisnisnya di bidang travel di 2002. Cipaganti Travel yang berada di bawah bendera PT Cipaganti Citra Nugraha adalah perusahaan yang menawarkan jasa dengan layanan Door to Door Service. Layanan tersebut adalah sebuah layanan angkutan penumpang dengan sistem layanan penjemputan penumpang (door) dan pengantaran penumpang sampai ke tempat tujuan (door) sesuai dengan trayek atau jurusan yang dilayani Cipaganti Travel. Adapun rute yang ditawarkan adalah Bandung-Bogor, Bandung-Jakarta, Bandung-Bandara Soekarno Hatta, Bandung-Tasikmalaya, Bandung-Cirebon, dan sebaliknya. 

Menurut Wonok Roni Temi, GM Otojasa Cipaganti Jabodetabek, “Hingga kini, Cipaganti telah memiliki 2000 unit armada dan jumlah tersebut akan bertambah hingga 5000 unit, dengan catatan sesuai kebutuhan pasar.” Armada yang disuguhkan Cipaganti pun cukup anyar, mulai Isuzu Elf dan KIA Pregio. 

Sejauh ini, Cipaganti telah memiliki 8 cabang di Bandung, diantaranya BTC (Barat), Cipaganti 84, Dipati Ukur, Cihampelas Point (Utara), MTC, dan Carrefour Kiara Condong (Timur). Sedangkan di wilayah Jabodetabek terdapat 30 cabang, diantaranya berada di Cikini, ITC Cempaka Mas, Casablanca, Pondok Indah, Hang Lekir, Bintaro, Grogol, Mangga Dua, Cililitan, Lenteng Agung, BSD, Jatiwaringin, Cibubur, Blora, Lebak bulus, dan Bekasi. 

Ada beberapa hal yang menjadi kelebihan Cipaganti Travel. Menurut Wonok, “Cipaganti memberikan rasa aman dan nyaman bagi penumpangnya. Hal tersebut kami realisasikan dengan memodifikasi armada kami, dalam satu mobil tersebut kami hanya membuat delapan kursi. Cipaganti pun akan menjalankan armada, walaupun hanya satu penumpang. Untuk masalah supir, kami mengerahkan supir-supir yang profesional. Armada yang kami gunakan pun armada yang baik dan bagus. Kami selalu mengadakan pelatihan bagi SDM kami, mulai office boy hingga atasannya. Selain itu juga, kami membuat kerja sama dengan Dinas Pariwisata Indonesia untuk meningkatkan pariwisata Indonesia.” 

Rencananya di 2010, Cipaganti akan mem-franchise-kannya. ”Hingga saat ini kami sedang observasi dan di Mei tahun ini kami akan mulai mem-franchise-kan Cipaganti. Investasi awal untuk franchise Cipaganti minimal Rp500 juta dan diperkirakan dapat BEP dalam waktu 2,5-3 tahun,” tutur pria 35 tahun ini. Biaya tersebut akan dialokasikan untuk royalty fee dan penyewaan beberapa armada yang diberikan oleh pihak pusat bagi franchisee.

[Aswin Cahyadi]



Cipaganti Travel dan Tour
Jl. Jend. Gatot Subroto no: 94
Bandung - Jawa Barat.
Telepon : (022) 731 9498 (Hunting)
Faksimile : (022) 733 3807

Arteri Pondok Indah no: 60
Jakarta - DKI Jakarta.
Telepon : (021) 720 4616 / 720 4766
Website : cipaganti.co.id


Berbisnis di Komunitas


Bergaul Sekaligus Menjaring Keuntungan di Komunitas Motor
Berakhir pekan bersama komunitas motor. Tentunya banyak hal yang kita dapat. Salah satunya menjalin pertemanan dan saling tukar informasi mengenai dunia otomotif. Selain itu, berbagai peluang bisnis terdapat di komunitas tersebut. Anda dapat bergaul sambil berbisnis! 

Coba Anda jalan-jalan ke Jalan Asia Afrika, Jakarta Selatan. Di sana, Anda akan banyak menemui berbagai tongkrongan. Mulai tongkrongan anak motor hingga mobil. Kebanyakan dari mereka membentuk sebuah komunitas atau club. Biasanya, komunitas ataupun club tersebut memiliki kesamaan jenis motor atau mobil.

Secara definisi, komunitas adalah sebuah paguyuban. Artinya adalah sebuah kumpulan dari banyak orang yang memiliki kesamaan visi-misi atau yang hidup di suatu daerah tertentu. Keberadaan komunitas pun sangat penting, misalnya saja komunitas motor atau mobil. Komunitas mempunyai peran penting bagi sebuah brand sebuah otomotif. Contohnya saja PT Astra Honda Motor (AHM), mereka membuat divisi khusus yang menangani segala kebutuhan para penggunanya. Selain itu, mereka membentuk Honda Customer Care Center (HC3) yang tugasnya membina komunitas.

Seperti yang dikutip di SWA tertanggal 12 November 2009, pihak AHM banyak menjalin kerjasama dengan komunitas. Menurut Istiyani Susriyati, Kepala H3C, AHM tidak hanya menjadi sponsorship saja. Tetapi AHM sering terlibat langsung di kegiatan komunitas tersebut. Setiap proposal kegiatan yang masuk akan didiskusikan dan dibahas bersama AHM dan komunitas. ”Kami adalah partner komunitas,” papar Istiyani. Dari interaksi tersebut maka akan terjalin hubungan yang baik antara AHM dan komunitas.


YMML (Yamaha Matic Mailing List)
Salah satu komunitas motor tersebut adalah YMML (Yamaha Matic Mailing List). YMML merupakan sebuah komunitas pemilik motor matic besutan Yamaha. YMML berbeda dengan club, komunitas ini tidak memberikan kewajiban yang khusus bagi tiap anggotanya. “Para angggota tidak dikenakan uang kas dan tidak diharuskan untuk kumpul setiap minggu,” terang Handripranata, atau biasa disapa Om Hanz.

Komunitas ini berdiri pada 16 Februari 2004 . Sang pencentus ide berdirinya komunitas ini adalah Zakaria Shadhu (39), Handriprananta (46), dan Eko. Mereka sepakat untuk mendirikan komunitas ini atas dasar persaudaraan dengan nama milis Yamaha-Matic@yahoogroups.com. ”Kami ingin menjalin silahturahmi dengan pecinta motor Yamaha lainnya,” cerita Zakaria, atau yang biasa disapa Om Zak.

YMML merupakan komunitas yang terdiri dari motor matic keluaran Yamaha, seperti Mio, Nouvo, Xeon, dan Majesty. Setiap tahunnya YMML mengagendakan sejumlah kegiatan, diantaranya touring ke berbagai daerah dan bakti sosial. Komunitas yang biasa melakukan kopdar (kopi darat) setiap Jumat malam di depan pintu Panahan, Senayan, Jakarta Selatan ini memiliki 2000 anggota milis. “Di komunitas ini saya bisa banyak belajar dunia otomotif dan menjalin pertemanan,” ujar Gigih Rahardiansyah, salah satu anggota YMML.

Tidak hanya sekadar untuk kumpul-kumpul saja, tetapi ada peluang bisnis di sana. Beberapa peluang bisnis tersebut, diantaranya penjualan jaket, sepatu, dan lampu motor. Salah satu anggota yang berbisnis adalah Ariesanto Mardi Utomo. Awal ketertarikannya karena banyak teman yang memesan barang-barang yang ia pakai di motornya. ”Teman banyak yang tertarik, lalu saya coba untuk berjualan,” papar Aries. Ia menjual perlengkapan lampu led sekaligus pemasangannya, rata-rata harga yang ia tawarkan mulai dari Rp60.000. Selain itu, ia pun menjual footrest khusus Mio dengan harga Rp100.000.


HVC (Honda Vario Club)
Berdiri pada 22 Juni 2006 dengan nama honda-vario@yahoogroups.com yang kemudian berubah nama menjadi Honda Vario Club pada 26 November 2006. Keberadaan club ini dicetuskan oleh Anton, Bima, Bilal, Iman, Herry, Velino, dan Yudha. HVC merupakan club Honda matic pertama di wilayah Jabodetabek yang didukung penuh oleh PT. Wahana Makmur Sejati cabang Gunung Sahari, Jakarta Pusat.

HVC menggelar kopdar rutin seminggu dua kali. Setiap Jumat malam, mereka berkumpul di depan Pintu Panahan, Senayan, Jakarta Selatan. Sedangkan, Sabtu malam mereka berkumpul di Jalan Sabang, Jakarta Pusat. Hingga saat ini HVC memiliki lebih dari 1000 anggota yang tersebar di berbagai daerah, seperti Bekasi, Depok, Cianjur, Surabaya, Bali, Semarang, Cilegon, Kudus, Medan, Banjarmasin, Semarang, Pekanbaru, dan Samarinda. Untuk menjadi anggota HVC, tiap calon anggota mendaftar dengan biaya Rp50.000 dan menyerahkan foto kopi STNK motor dan SIM C. 

Sejauh ini, HVC pun menggandeng dealer Honda untuk menjadi sponsor bagi kegiatan club ini. Salah satunya HVC Jakarta bekerja sama dengan dealer Honda cabang Dewi Sartika, Jakarta Timur. “Dengan menjadi anggota HVC, para anggota diberikan potongan harga sebesar 10% untuk pembelian sparepart motor Honda di dealer resmi Honda,” terang Debby Konay, Bendahara HVC.

Selain itu, pengurus HVC pun cukup rutin membuat kegiatan resmi yang didukung oleh main dealer Honda, PT Wahana Makmur Sejati. Kegiatan rutin tersebut diantaranya anniversary club, Jambore nasional, Baksos (bakti sosial), Mubes (musyawarah besar), dan touring nostalgia. “Pihak dealer Honda membantu kami dalam menjalankan agenda kegiatan rutin HVC, khususnya agenda anniversary dan mubes,” terang Ain Widia, Ketua Harian HVC. 

Di komunitas ini terdapat peluang bisnis. Menurut Debby, beberapa anggota komunitas HVC banyak menjual kebutuhan motor, khususnya untuk Honda Vario. Diantara anggota tersebut menjual berbagai aksesori, seperti lampu dan grip motor Vario. Selain itu, beberapa anggota HVC pun menjual sepatu, helm, dan box motor.


Spinner Community
Spinner Community adalah sebuah komunitas bagi pemilik motor Suzuki Spin. Awal pembentukan komunitas ini ini sebagai wadah sharing bagi pemilik Suzuki Spin. Berdiri pada 13 September 2006, komunitas ini meresmikan komunitas tersebut di milis spinner-community@yahoogroup.com. Awal terbentuknya komunitas ini didirikan oleh 12 orang. Diantaranya Hendro, Adam, dan Bojong, mereka adalah pendiri yang masih aktif di komunitas Spinner Community. Kegiatan rutin setiap minggu Spinner Community adalah kopdar, setiap Jumat malam mereka berkumpul di Circle K Gandaria, Jakarta Selatan.

Spinner Community yang beranggotakan 75 orang ini memiliki serangkaian agenda, diantaranya touring. Menurut Debby Astetica, Ketua Spinner Community periode 2008-2009, Spinner Community memiliki agenda touring empat kali dalam setahun. “Empat lokasi terakhir touring kami adalah Ujung Genteng, Pangandaran, Yogyakarta, dan Lampung,” papar Debby.

Sejauh ini, Spinner menjalin kerjasama dengan dealer Suzuki Saharjo dan Cipulir. Bentuk kerja samanya adalah pihak dealer memberikan potongan harga sebesar 20%-25% untuk pembelian sparepart dan perbaikan motor bagi anggota komunitas ini.

Tak hanya berkumpul dan bersenda gurau, beberapa anggota Spinner Community pun banyak mencoba berbisnis di komunitas ini. Ada beberapa anggota yang berjualan aksesori motor, seperti menjual sparepart original Suzuki Spin, jual beli motor, dan membuka bengkel yang dijadikan bengkel rujukan bagi komunitas ini. Salah satunya adalah bengkel milik Bojong yang berlokasi di Condet, Jakarta Timur. “Hampir 80% anggota Spinner Community memperbaiki motornya di bengkel saya,” ujar salah satu pendiri komunitas ini. Selain itu, ”Ada juga yang berjualan produk Oriflame,” cerita Debby. 

 
[Aswin Cahyadi]



DAFTAR CLUB MOTOR
Mio Club Depok (MCD) 
Kopdar : Jalan Raya Margonda, Buring, Depok. Jam 21.00-24.00

Jakarta Mio Club (JMC) 
Mailing List : jakartamioclub@yahoogroups.com
Website : www.jakartamioclub.com
Kopdar : Gedung Jakarta Expo Kemayoran, Jakarta Utara

Bekasi Mio Club (BMC) 
Mailing List : bekasimioclub@yahoogroups.com
Kopdar : Bani Saleh, Bekasi

Bandung Nouvo Club (BNC) 
Kopdar : Jalan Riau depan Grand Serela. Sabtu mulai jam 20.00

Mio Pamulang Community (MPC) 
Kopdar : depan dealer Yamaha Pamulang

Yamaha Matic Bogor (YMB) 
Mailing List : ymb_bgr@yahoogroups.com
Kopdar :Jalan Pajajaran (depan Gedung Esia), Bogor. Sabtu malam mulai jam 21.00.


HVC Chapter Depok
Kopdar : Jl. Margonda Raya (100 meter dari Tugu Selamat Datang Kota Depok). Setiap Sabtu malam. 

HVC Chapter Bekasi
Kopdar : Suncity Square, sebelah Giant Bekasi. Setiap Sabtu malam mulai jam 19.00.


Budi Daya Ikan Hias

Vizanfarm

Berjaya di Ikan Hias Setelah Lobsternya Gagalnya

Awalnya, membudidayakan lobster kemudian Sugeng beralih ke ikan hias. Ia melihat prospek budi daya ikan hias masih terbuka lebar dan relatif mudah. Dengan dibantu temannya yang lebih dulu memahami seluk beluk budi daya ikan hias. Sugeng pun melenggang di bisnis tersebut.

Di areal yang masih rimbun pepohonan itu saya melihat banyak hamparan kolam. Beragam jenis kolam terdapat di sana. Disana, tampak banyak kolam bermedia tanah dan semen. Selain itu, terdapat petak-petak ruangan yang dibalur sususan rak yang gunanya untuk menaruh akuarium-akuarium yang isinya beragam jenis ikan hias.

Berlokasi di Jalan Rapi, Sawangan, Depok, Sugeng Widiarso mencoba peruntungannya di bisnis budi daya ikan hias air tawar. Ikan hias yang dibudidayakannya adalah jenis ikan khas Eropa dan Afrika. Adapun jenis-jenis ikan hias tersebut, antara lain jenis Chichlid, Polypterus, Ctenopoma, Platydoras, Botia India, Synodontis, Redfin, dan Corydoras. Menurut Sugeng, ada beberapa alasan kenapa ia memilih jenis ikan hias tersebut untuk dibudidayakan. Pertama, ikan hias tersebut mudah dibudidayakan, mengingat ikan tersebut termasuk ikan tropis. Kedua, pangsa ekspor ikan hias jenis tersebut bagus.

Awalnya, Sugeng membudidayakan lobster di 2005. Bermodalkan lahan seluas 1000 m2 dan uang tunai Rp50 juta, ia membangun beberapa kolam. Awalnya, ia membudidayakan lobster air tawar. Namun, pada perkembangannya budi daya lobster lambat laun menurun. Hal tersebut dikarenakan menurunnya pangsa lokal maupun ekspor akan kebutuhan lobster. Selain itu, budi daya lobster tergolong lama panen dan membutuhkan banyak lahan kolam. Karena lobster tidak dapat dicampur dalam jumlah yang banyak dalam satu kolam.

Kemudian di 2007, ia pun mulai berpindah haluan. Dengan keyakinan penuh, Sugeng perlahan mempelajari seluk beluk budi daya ikan hias. Saat memulai membudidayakan ikan hias tersebut, ia mendapat bantuan dari teman. “Saya dibantu teman-teman saya. Mereka lulusan IPB yang paham tentang budi daya ikan hias air tawar,” ujar laki-laki kelahiran Cirebon ini.

Untuk melengkapi sarana kolam pembibitan ikan hias. Ia pun memperluas areal kolam pembibitannya menjadi 3000 m2. Selain itu, ia pun menggelontor Rp150 juta untuk penambahan pembuatan kolam baru seluas 500 m2. Yakni penambahan kolam semen dan kolam tanah. Penambahan kolam tersebut bertujuan agar panennya ikan hiasnya mampu menghasilkan jumlah yang besar. Selain itu, ia pun menyetok 300 lebih akuarium beserta peralatan lengkapnya, seperti gelembung oksigen, rak, dan filterisasi air.


Lokasi Ideal dan Langkahnya
Untuk memulai usaha budi daya ikan hias ini kita tidak boleh sembarang memilih lokasi. Menurut Sugeng, lokasi yang tepat untuk membudidayakan ikan hias jenis ini adalah lokasi yang memiliki kualitas air yang baik. Hindari pemilihan lokasi yang dekat dengan pabrik dan bekas rawa. Umumnya, lokasi tersebut airnya tercemar limbah dan bau. 

Selain itu, lokasi yang baik adalah lokasi yang memiliki cuaca yang stabil. Artinya cuaca tersebut tidak terlalu panas atau dingin. ”Kebetulan budi daya ikan hias jenis ini adalah ikan tropis. Jadi, cocok di lokasi yang saya pilih ini,” papar pria yang masih bekerja di salah satu suplier pesawat terbang di Pondok Cabe.

Langkah selanjutnya adalah penyediaan bibit ikan hias. Awalnya, Sugeng menyiapkan lebih dari seratus bibit ikan hias dari berbagai jenis. ”Bibit ikan tersebut saya dapat dari rekan saya yang lebih dulu berkecimpung di bisnis ikan hias,” ujar ayah dua anak ini. Seekor ikan dapat dijadikan bibit jika telah berumur 6–12 bulan. Selain itu, ikan yang dapat dijadikan bibit tampak dari bentuk badannya, biasanya bagian perut ikan betina mulai besar.

Setelah itu, proses pemijahan/perkawinan. Menurut Sugeng, ada dua cara pemijahan. Yakni pemijahan yang dilakukan secara alami dan dengan bantuan manusia. Untuk pemijahan secara alami, beberapa bibit ikan jantan dan betina dicampur dalam wadah yang sama. Pemijahan tersebut dapat dilakuk n di kolam atau di akuarium. Biasanya pemijahan secara alami berlangsung antara 2-3 minggu. Setelah itu, bibit ikan tersebut dicek bagian mulutnya. “Telur-telur tersebut biasanya berada di dalam mulut ikan betina,” papar pria yang memiliki hobi membaca ini.

Sedangkan untuk pemijihan dengan bantuan manusia dapat dilakukan dengan cara menyuntik perut ikan dengan Ovaprim. Obat ini berfungsi untuk membuahi sel telur ikan betina. Selang satu hari, ikan betina mengeluarkan telur-telurnya kemudian dicampur dengan sperma dari ikan jantan. Setelah dicampur, telur tersebut dipisahkan ke dalam akurium tersendiri. 

Biasanya satu bibit ikan mampu memproduksi hingga 500-an telur. Telur-telur tersebut kemudian dipindahkan dengan selang kecil ke akuarium yang berbeda dengan indukannya. Hal tersebut, bertujuan agar telur-telur tersebut tidak dimakan oleh ikan lainnya. “Biasanya, dari sekian banyak telur hanya 25%nya yang menetas dan hidup menjadi ikan,” ujar pria kelahiran 1970 ini.

Telur-telur yang telah dipisahkan dari induknya tersebut biasanya menetas dalam kurun waktu 1 – 6 hari. Telur yang menetas tersebut biasanya di taruh di akurium. Setiap akurium dapat menampung ratusan telur. Selain itu, sebuah akuarium hanya menampung satu jenis ikan saja.

Ikan-ikan yang baru menetas tersebut biasanya diberi makan Artemia. Yakni makanan yang awalnya berbentuk pasir kemudian direndam dengan air asin kemudian muncul hewan kecil yang siap dimakan ikan yang baru menetas tersebut. Sedangkan yang berumur lebih dari satu bulan, dapat diberi makan cacing atau pelet. 

Setelah berumur lebih dari satu bulan, ikan-ikan tersebut dipindahkan ke kolam tanah. Hal tersebut bertujuan agar proses penggemukan cepat berlangsung dibandingkan di kolam semen. Selain itu, kolam tanah memiliki suhu air yang relatif seimbang dibandingkan dengan suhu air di akuarium atau kolam semen.

Sebelum menjual ikan hasil budi dayanya ke suplier. Ikan tersebut dipindahkan ke kolam semen selama satu-dua minggu. Pemindahan ikan ke kolam semen bertujuan agar tubuh ikan hias mengeluarkan warna aslinya. 

Resiko yang sering dihadapi dalam budi daya ikan hias ini adalah penyakit. Biasanya, ikan-ikan tersebut terkena penyakit karena cuaca yang dingin. Untuk mengatasi hal tersebut, biasanya Sugeng memasang alat pemanas yang fungsinya menaikkan suhu air di dalam akuarium, biasanya disebut heater. Alat tersebut dimasukkan ke dalam akuarium dan mampu menaikkan suhu air hingga normal, yakni 27 C-30 C.

Selain itu, ikan kadang mengalami penyakit Hot spot. Penyakit ini menyerang kulit ikan, ditandai dengan bercak putih. Untuk menanggulangi masalah tersebut, Sugeng memberikan cairan yang bernama Methylene Blue. Cairan ini bewarna biru, cara penggunaannya adalah diteteskan ke air akurium tersebut.
  
Setiap bulannya, Sugeng mampu memproduksi lebih dari 20.000 ekor per bulan.”Jumlah penjualan tersebut dari berbagai jenis ikan hias. Rata-rata ikan yang dapat dijual antara 1-3 bulan dengan harga rata-rata Rp2000 per ekor,” papar Sugeng. Biasanya, Sugeng menjual hasil budi daya ikan hiasnya ke beberapa suplier. Mereka adalah eksportir dan pembudidaya khusus penggemukan.

Hingga saat ini, Sugeng memiliki enam karyawan. Setiap karyawan memiliki tugas sesuai keahliannya untuk mengurus beberapa jenis ikan hias tersebut. Mulai dari pemijahan hingga panen. Tiap bulannya Sugeng menggelontorkan Rp5 juta untuk membayar gaji karyawannya.

Selain itu, Sugeng pun cukup meraup kocek besar tiap bulannya, Yakni Rp15 juta. Biaya tersebut digunakan untuk pembelian pakan dan obat ikan. Saat DUIT menanyakan kiat suksesnya, pria kelahiran 21 Juli ini menjawab, “Saya membudidayakan jenis ikan hias yang berbeda dari orang lain. Selain itu, saya pun menjaga hubungan baik dengan para suplier.” 



 [Aswin Cahyadi]

Vizanfarm
Jalan Rapi RT 01/RW 01, Pondok Petir, Sawangan -Depok
Telp : (021) 68429146
www.vizanfram.com


Analisa Keuntungan

Modal awal Rp200 juta
(pembangunan kolam tanah, semen, akuarium, rak, dan peralatan lain)

Pemasukan tiap bulan : Rp2000x20.000 ekor Rp40 juta

Pengeluaran tiap bulan: (pakan dan obat ikan) Rp15 juta
  (biaya 6 karyawan) Rp5 juta


Keuntungan bersih tiap bulan Rp20 juta

Kamis, 15 Juli 2010

Bisnis Jasa Penitipan Mobil-Motor



Menyulap Lahan Kosong Menjadi Lahan Untung
Awalnya lahan kosong kemudian Edy megubahnya menjadi lahan penitipan motor. Lahan yang disewa Rp10 juta itu ia kelola bersama enam karyawannya. Rata-rata 200-300 motor per hari yang dititipkan di tempat penitipan motor milik Edy.

Rupanya, jasa penitipan motor atau mobil tidak hanya ada di mal perbelanjaan atau kantor. Tetapi, di sejumlah ruas jalan yang dekat dengan terminal dan stasiun kita akan menemui banyak jasa penitipan motor dan mobil yang dikelola dengan sederhana. Di sana, Anda akan melihat ratusan motor yang disusun rapi oleh petugas. Motor-motor yang tersusun rapi di sana pun beragam, mulai motor bebek hingga matic.

Usaha penitipan mobil atau motor adalah sebuah usaha yang yang bergerak di bidang jasa. Jasa di sini adalah sebuah jasa yang memberikan keamanan bagi orang yang menitipkan kendaraannya. Mereka menyiapkan sebuah lokasi yang cukup luas agar mampu menampung banyak kendaraan. Biasanya para pengguna jasa ini adalah para karyawan atau pekerja. Pada umumnya, seseorang yang menitipkan kendaraannya akan mendapat karcis yang disertai nomer kendaraannya. Biaya pun beragam tiap jasa satu dengan lainnya. 

Di beberapa negara maju, kita akan kesulitan menemui usaha penitipan motor atau mobil. Pasalnya, pihak pemerintah negara tersebut menyediakan tempat parkir. Biasanya, para pengguna jasa ini memasukkan uang koin ke dalam mesin menghitung waktu. Umumnya, tempat penitipan motor dan mobil tersebut sering dijumpai di dekat stasiun kereta api, terminal bus, dan lokasi yang strategis. 

Berbeda dengan Indonesia, pihak pemerintah hanya membuat sarana lahan parkir yang minim. Melihat banyaknya kebutuhan orang akan tempat penitipan motor dan mobil membuat Edy Wesly Silitonga memutuskan membuka usaha jasa penitipan motor dan mobil. Pasalnya, banyak orang yang enggan melakukan perjalanan ke kantor mereka karena jaraknya yang jauh. Mereka enggan melakukan hal tersebut karena memakan biaya yang besar dan akan kelelahan di jalan sebelum bekerja.

Edy membuka usaha penitipan motor dan mobil ini di September 2007. Usaha yang diberi nama Sahabat Motor ini berlokasi di Jalan Mayjen MT Haryono, Jakarta Timur. Lokasinya berada diantara banyak penumpang yang sedang menunggu banyak bis. Jika dilihat, lokasinya pun sangat strategis, mengingat kawasan itu merupakan kawasan transit tiap bis dari berbagai jurusan. Mulai jurusan Grogol, Bekasi, Cikarang, hingga Bogor.

Berdiri di lahan 1300-1500 m2, Edy menampung berbagai jenis kendaraan, mulai motor bebek, matic, hingga mobil. Awalnya Edi menyewa lahan tersebut sebesar Rp10 juta. “Saya dan sang pemilik membuat perjanjian yang tidak tertulis tentang penyewaan lahan ini,” papar pria kelahiran Tapanuli ini. Sebelumnya, lahan tersebut merupakan lahan kosong yang tidak berfungsi. Oleh karena itu, ia pun mencoba memanfaatkan lahan tersebut.

Beberapa hal yang dilakukan Edy saat memulai usaha ini adalah membersihkan lokasi kosong tersebut. Kemudian, ia memperbaiki segala sarananya, mulai dari pembuatan kanopi agar kendaraan tersebut dapat terlindungi dari hujan dan panas. Ia pun merapikan permukaan tanahnya dengan konblok. Sayangnya, ia lupa biaya yang dikeluarkan untuk perbaikan sarana tersebut. Selain itu, ia pun menyiapkan pos khusus bagi petugas keamanan di pintu masuk usahanya tersebut. Fungsinya agar mempermudah petugas dalam mengontrol kendaraan yang masuk dan keluar.  

Selain itu, usaha ini memerlukan sebuah manajemen sederhana. Manajemen tersebut meliputi penyusunan motor dan mobil agar rapi. Jadi, setiap kendaraan mudah masuk dan keluar sehingga tidak merepotkan pengusaha maupun pemilik motor dan mobil. Administrasi bagi kendaraan yang masuk pun harus dilakukan. Yakni, dengan memberi karcis yang ditulis sesuai nomor kendaraan dan diisi oleh petugas keamanan. Hal ini bertujuan agar tidak terjadi kesalahan atau pemalsuan nomor kendaraan. 


Libatkan Ormas dan Kepolisian
Dalam menjalankan usaha penitipan motor dan mobil, Edy dibantu dua orang karyawan. Para karyawan tersebut bertugas mengatur susunan motor dan menjaga kemanan. Tujuannya agar motor-motor mudah dipindahkan. Selain karyawan, Edy pun meningkatkan lini kemanannya dengan menggandeng ormas (organisasi masyarakat) BPPKB (Badan Pembinaan Potensi Keluarga Besar Banten). Peran ormas pun tidak sukarela, “Setiap harinya, saya membayar Rp100 ribu sebagai partisipasi,” terang Edy. 

Selain menggandeng ormas, Edy pun meminta perlindungan dari kepolisian. Hal tersebut, dimaksudkan agar pihak kepolisian turut serta menjaga keamanan usaha jasa penitipan motor dan mobilnya.

Hal berikutnya adalah spanduk. Baiknya, spanduk tersebut dipasang lokasi yang dianggap strategis. Dari hal tersebut, diharapkan para pengendara dapat membacanya saat melintas.

Selain itu, para petugas harus mencatat setiap kendaraan yang masuk. Pencatatan itu dilakukan dengan karcis yang dituliskan sesuai nomer kendaraannya. Perlengkapan pengendara pun dicatat secara terperinci oleh petugas di sebuah buku khusus. Pencatatan itu meliputi, barang-barang apa saja yang ditinggal di kendaraannya. Misalnya saja, seorang pengendara motor yang menaruh helm dan jaketnya di motor. ”Kelengkapan kami catat jelas agar tidak terjadi kehilangan,” papar pria kelahiran Juni ini. 

Sejauh ini, penitipan motor yang di kelola Edy belum pernah kehilangan motor. Begitu juga kehilangan helm. “Misalnya hilang, kami akan menggantinya,”terang pria yang hobi mendengarkan musik ini. Oleh karena itu, Edy menyiapkan keamanan yang ketat.

Dari tahun ke tahun, usaha Edy pun cukup berkembang. Kini, ia memiliki enam orang karyawan yang dibuat dalam dua shift karena usaha tersebut buka selama 24 jam. Setiap shift nya terdiri tiga orang. Setiap hari usahanya tersebut dapat menampung 200-300 motor di hari kerja (Senin-Jumat). Sedangkan di Sabtu dan Minggu rata-rata 30 motor. Selain motor, terkadang ada yang menitipkan mobil. “Yang menitipkan mobil jumlahnya tidak banyak, rata-rata 1-5 mobil setiap harinya,” terang Edy. Setiap motor dikenakan tarif Rp3000 dan mobil Rp5000 per 16 jam. Jika melebihi waktu yang ditentukan, pemilik dikenakan denda Rp500 per jam.

Menurut Edy, biasanya para pengendara kendaraan tersebut ramai di antara pukul 5.00 sampai 7.00. Sedangkan jam ramai saat pengambilannya berlangsung sekitar pukul 19.00. Selain itu, Edy pun menyediakan jasa penitipan helm. Setiap helm dikenakan biaya Rp1000. Biasanya helm yang dititipkan helm yang bagus dan harganya mahal. Rata-rata orang yang menitipkan helm sekitar 5-10 per harinya. Menurut edy, ada beberapa kiat yang ia lakukan dalam usaha ini, yakni meningkatkan pelayanan dengan cara merapikan motor dan meningkatkan keamanan.

Sedangkan hambatan yang sering dirasakan Edy adalah banyak oknum-oknum yang menarik biaya secara ilegal. Setiap bulannya Edy merogoh koceknya hingga Rp10 jutaan, jumlah tersebut digunakan untuk biaya listrik, bayar pegawai, dan ormas yang turut membantu keamanan usahanya tersebut.

Selain itu, resiko yang yang dihadapi dalam bisnis ini kebakaran dan kecurian. Untuk mengatasi hal tersebut, ada baiknya si pengusaha mengasuransikan bisnisnya tersebut. Dengan demikian, si pengusaha dapat mengurangi resiko kerugian bila hal-hal tersebut terjadi. Silakan mencoba! 

 

[Aswin Cahyadi]

Sahabat Motor
Jalan Mayjen MT Haryono No 1
Jakarta Timur
Telp (021) 912 63642





Bisnis Cuci Helm

Prima Cuci Helm
Pelindung Kepala pun Harus Wangi
Dengan modal keberanian dan kerja keras, Siany yakin mampu membuka usaha cuci helm. Bermodalkan Rp 10 juta dan dibantu satu orang karyawan yang dididiknya sendiri, ia mampu bersaing di bisnis cuci helm.

Sebuah etalase yang terpampang di depan gerai cuci helm tampak penuh dengan helm. Helm-helm yang dipampang pun terlihat rapi dan bersih. Helm yang memenuhi etalase tersebut pun beragam jenis. Mulai helm full face dan half face. Beragam merek helm pun dapat kita lihat disana. Diantaranya helm yang bermerek KYT, INK, MDS, Nolan, BMC, dan lain-lain.
 
Kacanya yang buram dan baunya tak sedap membuat helm tak nyaman ketika dipakai bepergian. Karena hal tersebut, banyak orang yang mengalami kesulitan ketika melihat helmnya tampak kotor. Begitu juga yang Siany Suwandi rasakan pada saat itu. “Awalnya, saya pun bingung bagaimana membersihkan helm milik saya,” cerita Perempuan kelahiran Jakarta ini.

Awal ketertarikannya, ketika ia menyaksikan sebuah acara televisi dari salah satu stasiun swasta Indoneisa yang membahas cara berbisnis cuci helm. Setelah menyaksikan acara tersebut, ia pun menguatkan keyakinannya untuk membuka usaha tersebut. Meskipun, ia tidak memiliki bekal pengetahuan yang cukup di bisnis tersebut.
 
Dengan modal keberanian dan mau bekerja keras, ia pun memulai bisnis cuci helm tersebut. Untuk memulai bisnis cuci helm ini, ia pun rela meluangkan waktunya selama beberapa bulan untuk mempelajari seluk beluk bisnis ini. Awalnya, ia mempelajari bagaimana teknik mencuci helm. “Saya mempelajari teknik mencuci helm selama 1-2 bulan sebelum membuka usaha cuci helm tersebut,” papar anak bungsu dari 7 bersaudara ini.

Kemudian, di September 2009 ia pun meresmikan bisnis cuci helm yang diberi nama Prima Cuci Helm. Prima Cuci Helm berlokasi di jalan Pahlawan Revolusi no 11, Jakarta Timur. Bisnis cuci helm tersebut adalah pengembangan usaha setelah air minum isi ulang yang lokasinya bersebelahan dengan bisnis cuci helmnya.

Di awal pembukaannya, Siany mengaku bermodalkan Rp 10 juta yang ia rogoh dari koceknya sendiri. Beberapa peralatan yang ia siapkan,diantaranya mesin pengering, etalase, vacuum cleaner, dan beberapa alat cuci lainnya. Untuk mesin pengering, ia mengaku membelinya dengan harga Rp 3, 5 juta di daerah Pangeran Jayakarta. Selain itu, ia pun menyiapkan satu orang karyawan yang ia latih sendiri.

Untuk masalah teknik mencuci helm, Siany mengaku mempelajarinya secara otodidak. “Awalnya saya belajar mencuci helm saya sendiri,” cerita perempuan yang berwajah oriental ini. Setelah itu, Siany mempelajari peracikan sabun yang baik untuk helm. Untuk peracikan sabun khusus tersebut ia dibantu temannya yang berlatar pendidikan kimia. Sabun yang digunakan untuk cucian helm ini pun tidak memiliki kandungan kimia yang keras sehingga aman untuk kulit kepala.

Menurut Siany, ada beberapa tahap dalam pencucian helm. Helm yang akan dicuci, sebaiknya dicopot bagian kacanya. Setelah itu, bagian dalam helm tersebut dibasahi air dan diberi sabun khusus lalu disikat. Helm yang telah bersih selanjutnya disedot airnya dengan vacuum cleaner dan dikeringkan dengan mesin pengering selama 30-40 menit. Setelah bagian dalam helm kering, disemprot pewangi dan bagian luar helm diberi cairan pengkilap. Rata-rata waktu yang dibutuhkan untuk proses pencucian satu buah helm memakan waktu hingga satu jam.

Prima Cuci Helm yang beroperasi setiap hari, rata-rata menerima 10 -20 helm per harinya. Harga yang ditawarkan Prima Cuci Helm pun cukup terjangkau, yakni Rp8000. Padahal, banyak tempat cuci helm yang mematok harga Rp10.000-Rp15.000. Sejauh ini, pelanggannya adalah orang kantoran, mereka biasanya dari Pondok Gede, Pondok Bambu, dan Rawa Mangun. Ketika Duit menanyakan berapa sering orang mencuci helm, Siany menjawab, ”Rata-rata tiap bulan orang mencuci helmnya. Malahan, ada pelanggan kami yang mencuci helm tiap minggu.” Sedangkan untuk tiap bulannya Siany mengaku menggelontorkan biaya sebesar Rp2 juta-Rp3 juta. Biaya tersebut untuk pembayaran satu orang karyawan, sabun, dan listrik. Menurut perempuan berusia 49 tahun ini, kunci sukses bisnis cuci helmnya ini adalah memberikan pelayanan yang baik dan harga yang bersaing.

[Aswin Cahyadi]

Prima Cuci Helm
Jalan Raya Pahlawan Revolusi No 11
Pondok Bambu, Jakarta Timur (Seberang Yogya Supermarket)
Telp: (021) 62260012

Produsen Sarung Tangan


Bangkit Sebagai Produsen Sarung Tangan Pasca Gempa

Bermodalkan relasi, Zen memulai bisnis pembuatan sarung tangan dengan modal yang relatif kecil. Setiap bulannya ia mampu memproduksi 5000 pasang sarung tangan. Kuncinya adalah menjaga kualitas dan selalu menciptakan inovasi desain.

Rasanya, tak nyaman bila kita mengendarai sepeda motor tanpa mengenakan sarung tangan. Tanpa mengenakan sarung tangan, tangan kita dapat terbakar saat mengendarai sepeda motor karena sengatan sinar matahari. Selain itu, dengan menggunakan sarung tangan kita dapat mengurangi resiko luka jika terjadi kecelakaan.

Secara definisi, sarung tangan adalah sebuah alat yang berfungsi melindungi pergelangan dan telapak tangan kita. Pada umumnya, sarung tangan terbuat dari kulit berbagai hewan. Namun, pada perkembangannya banyak muncul sarung tangan yang terbuat dari berbagai bahan, salah satunya cotton. 

Karena melihat peluang bagus di pasar sarung tangan, Zainal Arifin pun tertarik untuk memulai usaha tersebut. Apalagi, kebutuhan sarung tangan pun mengikuti perkembangan sepeda motor yang terus merangkak naik tiap tahunnya. 

Awalnya, Zaenal atau yang kerap disapa Zen tercatat sebagai karyawan di perusahaan Korea. Perusahaan tersebut adalah produsen sarung tangan olahraga, seperti Golf dan Baseball. “Saya mulai bekerja di perusahaan Korea dari 1990 hingga 2005. Awalnya, saya bekerja di Jakarta hingga terakhir saya ditempatkan di Yogyakarta,” cerita ayah satu anak ini.

Rupanya, pengalamannya selama menjadi karyawan di perusahaan sebelumnya tidak ia sia-siakan. Kemudian, pada Mei 2006 pasca gempa di Yogyakarta, ia pun memutuskan untuk membuka usaha pembuatan sarung tangan motor. “Saya sudah tidak mampu kalau harus bekerja dengan orang lain lagi. Akhirnya, dengan berbekal pengalaman saya memutuskan untuk membuka sendiri,” ujar pria yang hobi olahraga ini. 

Ketika, memulai usaha ini Zen tidak mengeluarkan banyak modal. ”Saya hanya punya tabungan Rp10 juta. Itupun, sebagian besarnya saya gunakan untuk membiaya kehidupan sehari-hari, “ujar pria kelahiran Blora ini. Berkat memiliki banyak relasi, ia pun dengan mudah mendapatkan bahan baku sarung tangan di wilayah Yogyakarta dengan pembayaran tempo. 

Setelah mendapatkan bahan baku, ia pun membuat desain dan memotong pola sarung tangan tersebut. Kemudian, ia membuat logo yang berlabel Zendi's Glove. Ia mengaku nama label tersebut adalah akronim ia dan temannya, yakni Zen dan Zumdi. Setelah itu, proses penjahitan. Ia mengaku proses penjahitan, tidak ia tangani sendiri. Karena keterbatasan alat dan pegawai, ia harus melempar pekerjaan tersebut ke orang lain. 

Setelah proses tersebut selesai, ia mendistribusikannya ke penjual variasi motor dan penjual helm. Biasanya, ia memberikan tempo pembayaran selama 2 minggu kepada para penjual. ”Setelah para penjual itu membayar, saya membayarnya ke teman-teman yang telah meminjamkan bahan baku dan jasa penjahitan,” ujar pria kelahiran 1968.

Perlahan namun pasti akhirnya usaha yang dirintis Zen pun membuahkan hasil. Kini, ia telah memiliki workshop yang berlokasi di Jalan Brontonkusuman MG III No 250, Yogyakarta. Selain itu, ia pun telah memiliki 15 orang karyawan tetap. “Kadang-kadang kami kesulitan memenuhi order yang datang. Karena itu, saya melempar sebagian pekerjaan ke orang lain,” papar Zen.

Saat ini, ia telah memiliki satu buah mesin potong dan 12 mesin jahit besar. Setiap bulannya, ia mampu memproduksi 3000-5000 pasang sarung tangan dengan 20 variasi model sarung tangan yang berbeda. Tiap sarung tangannya ia banderol mulai Rp18.000-Rp35.000. Dari jumlah tersebut, ia dapat mengantongi margin keuntungan 10%-15%. Kebanyakan pelanggannya adalah perusahaan yang telah memiliki brand sendiri, salah satunya sarung tangan merek Maestro. Jadi, ia hanya memproduksi, masalah penjualan ditangani oleh perusahaan tersebut.

Rupanya, para pelanggannya tidak hanya berasal dari Jakarta dan Yogyakarta. Ia mengaku, selama ini banyak order dari luar Pulau Jawa, namun tidak dapat ia kerjakan karena keterbatasan modal. Untuk masalah pembiayaan, tiap bulannya ia menggelontorkan Rp30 jutaan. Biaya tersebut dialokasikan untuk biaya pegawai, sewa tempat, dan listrik. Menurut Zen, prospek ke depan usaha ini masih bagus karena peningkatan jumlah motor tetap naik. 

[Aswin Cahyadi]

Zendi's Glove
Brontokusuman MG III RT 21/06, Yogyakarta
Telp : 081328638888
 


Bengkel Modifikasi


Bucos (Bengkel Modifikasi motor)

Mendulang Uang dari Hobi Motor
Bermodal Rp20 juta, yang dirogoh dari kocek pribadinya dan dibantu oleh teman-temannya. Anton merintis bengkel modifikasi motor mulai dari awal. Berawal dari hobi ia pun melanjutkannya ke ranah bisnis. Kuncinya adalah tekun, yakin, dan menjaga hubungan baik dengan teman dalam menjalani bisnis tersebut.

Rupanya, dari tahun ke tahun perkembangan sepeda motor mengalami kenaikan yang tinggi. Hal tersebut dapat kita lihat dari membludak-nya pengguna sepeda motor di sejumlah ruas jalan. Oleh karena itu, banyak menjamur bengkel motor. Mulai bengkel perbaikan hingga bengkel modifikasi.

Salah satu pemain yang berkecimpung di bengkel modifikasi motor adalah Anton Prasetyo atau yang akrab disapa Anton. Ketika Duit menanyakan kenapa ia memilih bisnis ini, pria bertato ini menjawab, “Saya hobi ngutak-ngatik motor. Jadi, saya buka bengkel ini sebagai hobi sekaligus bisnis.” Di bawah bendera Bucos (Brain Auto Concept and Stylling), ia merintis sendiri usaha tersebut dari awal. Di 2006, ia membuka usahanya tersebut di Jalan Raya Setu, Cilangkap, Jakarta Timur. Bermodalkan Rp20 juta, yang ia rogoh dari kocek sendiri dan dibantu teman, ia memulai usaha tersebut.

Diawal pembukaan Bucos, Anton menyiapkan beberapa persiapan. Diantaranya, menyiapkan seperangkat kunci lengkap, kompresor, dan etalase. Selain itu, ia pun dibantu dua orang karyawannya yang telah terlatih. “Mekanik sudah terlatih karena sebelumnya pernah bekerja di beberapa bengkel motor. Jadi, saya tak perlu repot lagi,” cerita Anton. Bucos menjual berbagai variasi motor, mulai velg, ban motor, shock breaker, baut, spion, dan grip. Selain itu, bengkel tersebut pun menyediakan berbagai merek oli mesin untuk motor 2 tak hingga matic. Untuk masalah pengadaan barang -barang tersebut, Anton biasanya berbelanja di pusat onderdil motor, seperti Cibubur, Otista, Kebon Jeruk, dan Ciledug. 

Selain menjual aksesoris motor, Bucos pun melayani cat body, airbrush, dan chrome. Untuk tarif yang ditawarkan untuk jasa cat body pun bervariasi. Mulai Rp700.000-Rp1,5 juta, harga tersebut tergantung tingkat kesulitan dan kualitas bahan cat. Selain itu, bengkel tersebut melayani modifikasi bentuk motor secara keseluruhan. Harga yang ditawarkan mulai Rp1,5 juta-Rp3,5 juta. “Modifikasi keselurahan motor, meliputi ganti kaki-kaki motor, cat body, chrome, dan airbrush,” papar pria kelahiran Solo ini.

Kemudian, Di awal 2009 bengkel modifikasi motor tersebut pindah lokasi di Jalan Raya Jati Kramat no 99, Bekasi. Untuk pemilihan lokasi, pria yang hobi bermain basket ini mengatakan, “Lokasi yang saya pilih, harus dipinggir jalan raya agar mudah diakses.” Selain itu, papan nama pun cukup penting agar dapat dibaca para pengguna motor yang melintasi jalan tersebut.
 
Sebagian besar langganan bengkel modifikasi motornya adalah teman-temannya, “Langganan bengkel saya adalah temen-teman yang hobi main motor juga,” papar pria yang berusia 32 tahun ini. Selain itu, beberapa pelanggannya juga banyak dari kalangan pelajar sekolah menegah atas. Promosinya pun hanya dari mulut ke mulut. Pelanggan datang dari informasi dari teman-temannya yang sebelumnya pelanggan di bengkel tersebut.

Bengkel tersebut beroperasi setiap hari mulai pukul 10.00 dan tutupnya pun tak tentu. “Kadang-kadang banyak teman yang nongkrong. Jadi, kami tutup sampai larut malam,” terang Alex, mekanik Bucos. Sejauh ini, Bucos beberapa kali memenangkan beberapa perlombaan motor, diantaranya kontes motor kelas bebek funky dan matic funky di ajang yang diadakan tabloid Otomotif dan pentas seni sekolah di 2009. “Salah satu promosi kami adalah dengan mengikuti banyak kontes,” papar Anton.

Setiap bulannya Bucos dapat mengantongi omset Rp5 juta-Rp10 juta. Sedangkan untuk pengeluarannya, setiap bulannya sang pemilik menggelontorkan kocek Rp1,8 jutaan di luar sewa tempat. Biaya tersebut untuk biaya satu orang karyawan dan listrik setiap bulannya. Menurut Anton, kunci menjalani bisnis ini adalah tekun, yakin, dan menjaga hubungan baik dengan teman.  

[Aswin Cahyadi]

Bucos
Jalan Raya Jati Kramat No 99
Jati Asih, Bekasi
Telp : (021) 93856823