Kamis, 15 Juli 2010

Bisnis Jasa Penitipan Mobil-Motor



Menyulap Lahan Kosong Menjadi Lahan Untung
Awalnya lahan kosong kemudian Edy megubahnya menjadi lahan penitipan motor. Lahan yang disewa Rp10 juta itu ia kelola bersama enam karyawannya. Rata-rata 200-300 motor per hari yang dititipkan di tempat penitipan motor milik Edy.

Rupanya, jasa penitipan motor atau mobil tidak hanya ada di mal perbelanjaan atau kantor. Tetapi, di sejumlah ruas jalan yang dekat dengan terminal dan stasiun kita akan menemui banyak jasa penitipan motor dan mobil yang dikelola dengan sederhana. Di sana, Anda akan melihat ratusan motor yang disusun rapi oleh petugas. Motor-motor yang tersusun rapi di sana pun beragam, mulai motor bebek hingga matic.

Usaha penitipan mobil atau motor adalah sebuah usaha yang yang bergerak di bidang jasa. Jasa di sini adalah sebuah jasa yang memberikan keamanan bagi orang yang menitipkan kendaraannya. Mereka menyiapkan sebuah lokasi yang cukup luas agar mampu menampung banyak kendaraan. Biasanya para pengguna jasa ini adalah para karyawan atau pekerja. Pada umumnya, seseorang yang menitipkan kendaraannya akan mendapat karcis yang disertai nomer kendaraannya. Biaya pun beragam tiap jasa satu dengan lainnya. 

Di beberapa negara maju, kita akan kesulitan menemui usaha penitipan motor atau mobil. Pasalnya, pihak pemerintah negara tersebut menyediakan tempat parkir. Biasanya, para pengguna jasa ini memasukkan uang koin ke dalam mesin menghitung waktu. Umumnya, tempat penitipan motor dan mobil tersebut sering dijumpai di dekat stasiun kereta api, terminal bus, dan lokasi yang strategis. 

Berbeda dengan Indonesia, pihak pemerintah hanya membuat sarana lahan parkir yang minim. Melihat banyaknya kebutuhan orang akan tempat penitipan motor dan mobil membuat Edy Wesly Silitonga memutuskan membuka usaha jasa penitipan motor dan mobil. Pasalnya, banyak orang yang enggan melakukan perjalanan ke kantor mereka karena jaraknya yang jauh. Mereka enggan melakukan hal tersebut karena memakan biaya yang besar dan akan kelelahan di jalan sebelum bekerja.

Edy membuka usaha penitipan motor dan mobil ini di September 2007. Usaha yang diberi nama Sahabat Motor ini berlokasi di Jalan Mayjen MT Haryono, Jakarta Timur. Lokasinya berada diantara banyak penumpang yang sedang menunggu banyak bis. Jika dilihat, lokasinya pun sangat strategis, mengingat kawasan itu merupakan kawasan transit tiap bis dari berbagai jurusan. Mulai jurusan Grogol, Bekasi, Cikarang, hingga Bogor.

Berdiri di lahan 1300-1500 m2, Edy menampung berbagai jenis kendaraan, mulai motor bebek, matic, hingga mobil. Awalnya Edi menyewa lahan tersebut sebesar Rp10 juta. “Saya dan sang pemilik membuat perjanjian yang tidak tertulis tentang penyewaan lahan ini,” papar pria kelahiran Tapanuli ini. Sebelumnya, lahan tersebut merupakan lahan kosong yang tidak berfungsi. Oleh karena itu, ia pun mencoba memanfaatkan lahan tersebut.

Beberapa hal yang dilakukan Edy saat memulai usaha ini adalah membersihkan lokasi kosong tersebut. Kemudian, ia memperbaiki segala sarananya, mulai dari pembuatan kanopi agar kendaraan tersebut dapat terlindungi dari hujan dan panas. Ia pun merapikan permukaan tanahnya dengan konblok. Sayangnya, ia lupa biaya yang dikeluarkan untuk perbaikan sarana tersebut. Selain itu, ia pun menyiapkan pos khusus bagi petugas keamanan di pintu masuk usahanya tersebut. Fungsinya agar mempermudah petugas dalam mengontrol kendaraan yang masuk dan keluar.  

Selain itu, usaha ini memerlukan sebuah manajemen sederhana. Manajemen tersebut meliputi penyusunan motor dan mobil agar rapi. Jadi, setiap kendaraan mudah masuk dan keluar sehingga tidak merepotkan pengusaha maupun pemilik motor dan mobil. Administrasi bagi kendaraan yang masuk pun harus dilakukan. Yakni, dengan memberi karcis yang ditulis sesuai nomor kendaraan dan diisi oleh petugas keamanan. Hal ini bertujuan agar tidak terjadi kesalahan atau pemalsuan nomor kendaraan. 


Libatkan Ormas dan Kepolisian
Dalam menjalankan usaha penitipan motor dan mobil, Edy dibantu dua orang karyawan. Para karyawan tersebut bertugas mengatur susunan motor dan menjaga kemanan. Tujuannya agar motor-motor mudah dipindahkan. Selain karyawan, Edy pun meningkatkan lini kemanannya dengan menggandeng ormas (organisasi masyarakat) BPPKB (Badan Pembinaan Potensi Keluarga Besar Banten). Peran ormas pun tidak sukarela, “Setiap harinya, saya membayar Rp100 ribu sebagai partisipasi,” terang Edy. 

Selain menggandeng ormas, Edy pun meminta perlindungan dari kepolisian. Hal tersebut, dimaksudkan agar pihak kepolisian turut serta menjaga keamanan usaha jasa penitipan motor dan mobilnya.

Hal berikutnya adalah spanduk. Baiknya, spanduk tersebut dipasang lokasi yang dianggap strategis. Dari hal tersebut, diharapkan para pengendara dapat membacanya saat melintas.

Selain itu, para petugas harus mencatat setiap kendaraan yang masuk. Pencatatan itu dilakukan dengan karcis yang dituliskan sesuai nomer kendaraannya. Perlengkapan pengendara pun dicatat secara terperinci oleh petugas di sebuah buku khusus. Pencatatan itu meliputi, barang-barang apa saja yang ditinggal di kendaraannya. Misalnya saja, seorang pengendara motor yang menaruh helm dan jaketnya di motor. ”Kelengkapan kami catat jelas agar tidak terjadi kehilangan,” papar pria kelahiran Juni ini. 

Sejauh ini, penitipan motor yang di kelola Edy belum pernah kehilangan motor. Begitu juga kehilangan helm. “Misalnya hilang, kami akan menggantinya,”terang pria yang hobi mendengarkan musik ini. Oleh karena itu, Edy menyiapkan keamanan yang ketat.

Dari tahun ke tahun, usaha Edy pun cukup berkembang. Kini, ia memiliki enam orang karyawan yang dibuat dalam dua shift karena usaha tersebut buka selama 24 jam. Setiap shift nya terdiri tiga orang. Setiap hari usahanya tersebut dapat menampung 200-300 motor di hari kerja (Senin-Jumat). Sedangkan di Sabtu dan Minggu rata-rata 30 motor. Selain motor, terkadang ada yang menitipkan mobil. “Yang menitipkan mobil jumlahnya tidak banyak, rata-rata 1-5 mobil setiap harinya,” terang Edy. Setiap motor dikenakan tarif Rp3000 dan mobil Rp5000 per 16 jam. Jika melebihi waktu yang ditentukan, pemilik dikenakan denda Rp500 per jam.

Menurut Edy, biasanya para pengendara kendaraan tersebut ramai di antara pukul 5.00 sampai 7.00. Sedangkan jam ramai saat pengambilannya berlangsung sekitar pukul 19.00. Selain itu, Edy pun menyediakan jasa penitipan helm. Setiap helm dikenakan biaya Rp1000. Biasanya helm yang dititipkan helm yang bagus dan harganya mahal. Rata-rata orang yang menitipkan helm sekitar 5-10 per harinya. Menurut edy, ada beberapa kiat yang ia lakukan dalam usaha ini, yakni meningkatkan pelayanan dengan cara merapikan motor dan meningkatkan keamanan.

Sedangkan hambatan yang sering dirasakan Edy adalah banyak oknum-oknum yang menarik biaya secara ilegal. Setiap bulannya Edy merogoh koceknya hingga Rp10 jutaan, jumlah tersebut digunakan untuk biaya listrik, bayar pegawai, dan ormas yang turut membantu keamanan usahanya tersebut.

Selain itu, resiko yang yang dihadapi dalam bisnis ini kebakaran dan kecurian. Untuk mengatasi hal tersebut, ada baiknya si pengusaha mengasuransikan bisnisnya tersebut. Dengan demikian, si pengusaha dapat mengurangi resiko kerugian bila hal-hal tersebut terjadi. Silakan mencoba! 

 

[Aswin Cahyadi]

Sahabat Motor
Jalan Mayjen MT Haryono No 1
Jakarta Timur
Telp (021) 912 63642





Tidak ada komentar:

Posting Komentar