Jumat, 16 Juli 2010

Kedai Sate Jaya Agung

                                   Suasana pengunjung Kedai Sate Jaya Agung 

                Sudjono (adik pemilik) :kunci suksesnya dalah menjaga kualitas rasa
Sate Lokal, Pengunjung Internasional
Walaupun lokasinya sederhana, kedai sate Jaya Agung tetap diminati banyak pengunjung. Kunci suksesnya adalah rasanya yang khas dan selalu menjaga kualitas rasa.

Siapa yang tidak kenal sate, rasanya yang khas, selalu memiliki ruang tersendiri bagi para pecinta kuliner Indonesia. Bahkan, Presiden Amerika Serikat, Barack Obama pernah mengatakan bahwa sate adalah salah satu makanan Indonesia yang menjadi favoritnya dan dengan fasihnya ia mengucapkan “sate” dalam penggalan wawancaranya di salah satu stasiun swasta Indonesia.

Sate atau yang kadang disebut satai adalah makanan yang terbuat dari potongan daging (ayam, kambing, sapi, ikan, dan kelinci) yang diiris kecil-kecil, ditusuk dengan tusukan yang terbuat dari bambu kemudian dibakar dengan menggunakan arang. Setelah dibakar hingga matang, biasanya sate disajikan dengan bumbu kacang atau kecap.

Menurut sejarah, sate berasal dari Pulau Jawa, pada abad ke-19 ketika pedagang Arab secara serentak melakukan perdagangan ke Indonesia. Banyaknya permintaan dari para pedagang Arab, dengan cepat sate menjadi salah satu makanan favorit, entah sate ayam maupun sate kambing. Selain itu juga, sate populer di negara-negara Asia Tenggara, seperti Malaysia, Singapura, Filipina dan Thailand. Sate juga populer di Belanda yang dipengaruhi masakan Indonesia yang dulu merupakan koloninya. Sedangkan sate versi Jepang disebut yakitori.

Salah satu kedai sate ayam dan kambing yang menjadi favorit adalah kedai sate Jaya Agung, yang berlokasi di jalan KH. Wahid Hasyim no 56 C. Tepatnya di belakang gedung Jakarta Theatre. Walaupun tempatnya terlihat sederhana, pengunjung rela antre untuk mencicipi kedai sate tersebut.

Menu yang disajikan kedai sate Jaya Agung cukup bervariasi. Mulai sate ayam, sate kambing, sate hati kambing, gule kambing, soto madura, soto ayam, dan sop kaki kambing. Kedai sate tersebut mematok harga mulai Rp14.000 untuk satu porsi soto, gule, dan sate ayam. Sedangkan, harga sate kambingnya di patok Rp30.000 per porsi.

Sang pemilik kedai sate Jaya Agung adalah seorang kakak beradik, yakni Djali Suprapto dan Sudjono. Mereka berasal dari Lamongan, Surabaya. Pada tahun 70-an, mereka mulai merintis kedai sate tersebut dengan modal kecil dan keberanian. “Saat memulai usaha ini, kami hanya bermodalkan Rp1000, mungkin saat ini senilai Rp1 juta. Awal pembukaan, lokasi kami berada diseberang jalan dari lokasi kedai kami sekarang. Awalnya kami hanya berjualan dengan menggunakan tenda yang berukuran 1x3 meter, itupun hanya gerobak, meja makan, dan beberapa kursi,” tutur Sudjono, adik dari Djali.

Rupanya dari tahun ke tahun kedai sate Jaya Agung mulai mendapat hati dari masyarakat. Pada 1972, kedai sate tersebut pindah ke tempat yang sekarang mereka tempati dengan dibantu empat karyawan.

Sentra Kuliner
Dilihat dari lokasinya, sate Jaya Agung memiliki tempat yang cukup strategis. Berada di sentra kuliner jalan Sabang, Jakarta Pusat yang dinamakan Kawasan Kuliner Kampung Lima yang diresmikan pada 2009 oleh Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo. Sedikitnya terdapat 160 pedagang dengan sistem shift dalam sentra kuliner jalan Sabang ini. Selain itu, lokasi kedai sate tersebut diapit oleh pusat perkantoran dan perbelanjaan.
 
Setiap harinya kedai sate Jaya Agung beroperasi mulai 08.00 hingga 02.00. Biasanya kedai tersebut mulai ramai pengunjung pada jam makan siang, mulai jam 11.00. Sedangkan di jam makan malam, mulai pukul 18.30. Di hari kerja, biasanya para pelanggan adalah para karyawan dan jika di akhir pekan para pelanggannya adalah keluarga, artis, dan turis. Menurut Sudjono, pria kelahiran 1967, “Beberapa artis memang suka makan di kedai ini, misalnya Dede Yusuf, Becky Tumewa, dan masih banyak lagi. Mereka biasanya makan bersama keluarganya”

Selain itu, kedai sate Jaya Agung pun kerap dikunjungi para turis karena kedai tersebut masuk dalam guide map turis internasional. Kebanyakan turis yang singgah dan mencicipi kedai sate Jaya Agung berasal dari Timur Tengah, Jepang, dan Eropa. Para turis tersebut biasanya mencicipi soto madura kedai ini, mereka suka karena rasanya yang khas. “Pernah juga, kedai ini diliput oleh Pak Bondan Winarno, sebagai acara perdana acara kulinernya di televisi,” jelas Sudjono.

Hingga saat ini kedai sate Jaya Agung telah memiliki 16 karyawan. Karyawan tersebut dibagi ke dalam dua shift, shift pertama terdiri dari 6 orang dan shift kedua 10 orang. Yang menarik dari kedai sate tersebut adalah pakaian yang dikenakan para karyawannnya. Jika kebanyakan kedai makanan serupa memakai seragam yang bertuliskan nama kedainya, tetapi tidak dengan kedai sate ini. Malahan, para karyawannya mengenakan baju batik. “Kami sengaja mengganti seragam karyawan kami menjadi baju batik karena baju batik lebih enak dipandang dan terlihat santai, namun rapi,” jelas pria yang memiliki hobi jalan-jalan ini.
 
Dalam merekrut karyawan, sang pemilik pun memiliki kiat tersendiri. Para karyawan tersebut biasanya para saudara atau teman dari karyawannya yang telah bekerja di kedai sate yang dikomandoinya. Kebanyakan dari mereka berasal dari Tegal, Solo, dan Wonogiri. Hal tersebut dimaksudkan agar lebih mudah menjalin hubungan dalam bekerja. Untuk pembiayaan seluruh karyawannya, Sudjono merogoh koceknya kurang lebih Rp15 jutaan per bulan.

Kunci Sukses
Ketika DUIT menanyakan kunci sukses menjalankan usaha satenya, pria kelahiran Surabaya 15 Mei ini mengatakan, “Kunci saya dalam melakoni usaha ini adalah telaten, sabar, disiplin, selalu menjaga kualitas rasa.”

Untuk menjaga mutu rasa, setiap hari sang pemilik rela untuk belanja daging ke pedagangnya langsung di daerah Tanah Abang. Hal ini dikarenakan agar rasa daging-daging tersebut tetap segar. 
Selain itu, sang pemilik, yakni Djali selalu mengontrol rasa makanan yang tersaji di meja. “Biasanya tiap satu jam atau dua jam sekali dia selalu mencicipi kecap dan jeruk nipis yang tersedia di meja. Jika rasa kecap mulai tidak enak dan jeruk nipis rasanya sudah tidak segar dan asem, langsung kami ganti,” terang Sudjono.

Cita rasa yang khas pun yang menjadi daya pikat kedai Jaya Agung. Bumbu satenya yang ditawarkan kedai sate ini berbeda dengan bumbu sate penjual lainnya. Bumbu sate kedai ini memiliki gerusan kacangnya agak kasar. “Bumbu kacang dengan gerusan yang tidak halus itulah yang menjadi kekhasan kedai sate kami, jadi rasa kacangnya di lidah lebih terasa, “ papar Sudjono  

Setiap harinya kedai sate Jaya Agung mampu meraup omset rata-rata Rp7 juta-Rp8 juta. Sedangkan, pengeluaran perharinya sekitar Rp3-Rp4 juta, biaya tersebut meliputi biaya pembelian daging dan bumbu-bumbu lainnya, seperti bawang merah, jeruk nipis, daun bawang, dan lain-lain.

Sayangnya, hingga kini sang pemilik Djali dan Sudjono enggan untuk membuka cabang baru untuk kedai sate tersebut. Padahal, banyak pengunjung yang menginginkannya agar mereka membuka cabang satenya agar para pengunjung dapat menikmati rasa sate kedai tersebut tanpa antre. “Kalau untuk buka cabang baru, saya sudah tidak sanggup,” papar Djali. 

[Aswin Cahyadi]
Sate Jaya Agung
KH. Wahid Hasyim no 56 C
Jakarta Pusat



Tidak ada komentar:

Posting Komentar